Minyak Jarak, Pilihan Atasi Masalah BBM dan Kemiskinan

April 20, 2009 at 11:03 am Leave a comment

pertanian2Minyak jarak alami ini bahkan memiliki spesifikasi yang lebih unggul jika dibandingkan dengan minyak diesel biasa.

Lantas bagaimana dengan pilihan untuk menyelesaikan masalah harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus melambung dan menimbulkan masalah perekonomian bagi bangsa Indonesia. Saat ini, harga minyak mentah dunia sudah mencapai harga sekitar US$ 64 per barel (satu barel setara dengan sekitar 158 liter).

Aneh memang, Indonesia yang terkenal sebagai produsen minyak mentah malah mengalami masalah dengan kenaikan harga minyak mentah itu. Tetapi, bila dilihat alasannya yakni karena selain sebagai produsen, Indonesia juga menjadi negara konsumen BBM, yang bahkan melebihi kemampuan produksinya. Kebutuhan minyak itu selain untuk sektor industri, seperti pembangkit tenaga listrik, juga industri lainnya yang memerlukan penggerak mesin diesel.

Siapa yang menikmati hasil alam Indonesia itu sebenarnya? Salah satu yang kini sedang ramai dibicarakan adalah subsidi yang selama ini ditanam dalam pembelian BBM. Setelah sekian lama, subsidi itu kemudian disimpulkan kurang menjangkau masyarakat yang lebih pantas menerima subsidi. Akibatnya, subsidi dicabut dan dibagikan langsung ke masyarakat kurang mampu.

Itulah satu pilihan yang kini diambil pemerintah dan menuai banyak protes. Bagaimana dengan pilihan lain, seperti pemanfaatan minyak jarak, biodiesel, bioetanol, dan lainnya.

Pada suatu kesempatan membahas tentang energi alternatif di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) beberapa waktu lalu, salah seorang peneliti Departemen Teknik Kimia Pusat Bioteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Robert Manurung mengatakan tumbuhan jarak pagar yang banyak terdapat di Indonesia dapat diandalkan mengatasi masalah BBM di tanah air.

Nama tumbuhan ini dikenal masyarakat Bali sebagai jarak pager. Sedangkan masyarakat Madura mengenalnya sebagai kalele, masyarakat Sunda mengenalnya sebagai jarak kusta, masyarakat Melayu mengenalnya sebagai jarak costa, masyarakat Gorontalo mengenalnya sebagai bintalo, dan di Ternate sebagai balacai hisa. Tumbuhan famili Euphorbiaceae ini sendiri memiliki nama Latin sebagai Jatropha curcas.

Meskipun memiliki rasa pahit dan beracun, tumbuhan ini dikenal masyarakat memiliki khasiat sebagai pengobat luka, penyubur rambut, dan rematik.

Bagian yang dapat diolah untuk bahan bakar dari tumbuhan ini adalah kulit biji dan kulit buahnya. Buah jarak dipanen ketika 75 persen buah di sebuah tangkainya telah mengering dan lainnya berwarna kuning kehijauan

Kemudian, buah hasil panen dijemur selama satu sampai dua hari, sehingga kadar air mencapai ideal yakni 6 persen. Setelah kering, biji jarak kemudian dikukus pada suhu 170 derajat celsius selama 30 menit, kemudian digerus dengan mesin untuk memisahkan kulit biji dari dagingnya.

Kulit biji dan kulit buah itu kemudian diolah dengan teknologi pirolisis untuk menghasilkan bio-oil sebagai bahan bakar minyak yang dapat menggantikan bahan bakar minyak tanah dan minyak berat (residu).

Minyak jarak alami ini bahkan memiliki spesifikasi yang lebih unggul jika dibandingkan dengan minyak diesel biasa. Karena, selain memiliki kandungan Sulfur 0,13 ppm (parts per million), jauh lebih rendah dari minyak diesel lainnya (1,2 ppm), sehingga membuat minyak ini sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan, titik nyalanya juga lebih tinggi (240 derajat celsius) dibanding minyak diesel lainnya (50 derajat celsius).

Begitu pula jika dilihat dari sifat fisika minyak tanaman Jarak ini. Minyak Jatropha alami sangat berpotensi menggantikan minyak diesel karena memiliki cetane number (52), dari uji pihak ITB, lebih tinggi dari minyak diesel biasa (51).

Minyak ini memang memiliki kekentalan (viskositas 50,8 cSt lebih tinggi dari minyak lainnya, antara 6-11,75 cSt (centi-Stokes), namun karakteristik ini mudah diatasi karena hanya dengan pemanasan pada temperatur 70-80 derajat celsius, minyak ini sudah memiliki kekentalan sesuai dengan kebutuhan mesin. Hal ini lebih didukung lagi dengan kenyataan minyak ini memiliki titik nyala yang tinggi.

Pada uji coba pada sebuah mesin diesel di ITB terhadap tiga jenis minyak, yakni minyak Jatropha alami (BD 100 persen), campuran minyak Jatropha alami (50 persen) dengan minyak diesel biasa (50 persen), dan minyak diesel murni (100 persen), diperoleh grafik karakteristik ketiganya yang hampir berhimpitan.

Minyak jarak ini sendiri sudah mulai digunakan pada pabrik gula sebuah badan usaha milik negara, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Hal itu pun diakui Direktur Teknologi PT RNI, TG Marpaung yang ditemui Pembaruan pada diskusi alternatif energi di BPPT.

Selain berpotensi sebagai pengganti minyak solar, tumbuhan ini juga dapat diandalkan untuk mengentaskan warga miskin. Hal ini cukup beralasan karena saat ini pabrik tebu di Indonesia membutuhkan 15 juta liter solar per tahun. Dengan harga solar Rp 5.350 per liter, maka dalam satu tahun dibutuhkan dana sebesar Rp 80,25 miliar. Jumlah itu akan semakin besar karena dalam waktu dekat, pemerintah menaikkan lagi harga solar untuk industri menjadi Rp 6.000 per liter.

Sementara, harga pokok minyak jarak Rp 600 per liter yang artinya lebih hemat Rp 4.750 per liter atau sekitar Rp 71,25 miliar per tahun. Melihat perhitungan itu, para petani akan diuntungkan jika mampu menjadi bagian pemasok biji Jarak Pagar.

Bayangkan saja, jika luas daerah tandus di Indonesia yang ternyata mencapai 1,5 juta hektare bisa ditanami Jarak Pagar. Bukankah harga hasil panen dari tumbuhan lain, seperti kelapa sawit dan daun teh per kilogram semakin menurun setiap tahunnya? Mengapa tidak mencoba menanam tumbuhan sampingan jarak pagar?

Perhitungan yang dilakukan Marpaung menunjukkan penanaman jarak pagar pada lahan seluas tiga hektare mampu memberikan pendapatan Rp 1,25 juta per bulan bagi petani.

Terlebih jika dilihat upaya pembukaan lahan sejuta hektare beberapa waktu lalu. Bila lahan itu digunakan untuk menanam pohon jarak dan setiap keluarga diberi hak mengurus tiga hektare saja, maka dengan rata-rata satu keluarga terdiri empat anggota, berarti upaya itu telah menciptakan lapangan kerja bagi 1,3 juta penduduk.

Begitu pula jika dilihat dari penghematan keuangan negara. Produktivitas biji Jatropha sekitar 5 kilogram per pohon per tahun. Panen yang dapat dihasilkan per hektare, dengan asumsi terdapat 2.500 pohon, mencapai 12,5 ton per tahun. Bila kandungan minyak hasil ekstraksi diambil 35 persen (maksimal 42 persen), maka diperoleh 4,3 miliar liter per tahun. Hasil 4,3 miliar liter ini sudah barang tentu akan mengurangi pemakaian solar senilai Rp 23,005 triliun per tahun. Sebuah nilai penghematan yang fantastis di tengah tekornya APBN akibat subsidi BBM.

sumber situs hijau

Entry filed under: pertanian. Tags: .

manfaat lengkuas teknik budidaya rosela

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pilih bahasa

Categories

status

kaskusradio.com

KasKusRadio - Indonesian Radio

rank

Alexa Certified Traffic Ranking for ayobertani.wordpress.com
April 2009
M T W T F S S
    May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

%d bloggers like this: