cara pencegahan flu babi

May 1, 2009 at 9:30 am 2 comments

Penyakit flu babi ini memiliki waktu inkubasi 3-5 hari, dengan gejala-gejala mirip flu biasa, yaitu batuk, pilek, suhu tinggi, mual, muntah dan dapat menimbulkan diare.

BELUM sirna rasa waswas kita terhadap ancaman penyakit flu burung (avian influenza), kini datang ancaman penyakit lain, yakni flu babi. Flu babi merebak di dunia dan menelan korban tewas 152 orang dari 2.500 penderita flu babi, sampai akhir April ini. Mula-mula dari meksiko, Amerika Utara kemudian dilaporkan merebak di Selandia Baru dan beberapa negara Eropa.

Badan dunia WHO telah meningkatkan dari kewaspadaan level III menjadi IV, dan bahkan kemungkinan bisa menjadi kriteria pandemi. Penyakit seperti ini pernah menjadi pendemi tahun 1918-1919 dengan korban tewas lebih dari 20 juta orang. Beberapa laporan bahkan memperkirakan koban tewas mencapai 100 juta orang (Swaminathan, 2008: Serious Viral Illnesses in the Adult Patient).

Flu babi yang dikhawatirkan saat ini disebabkan oleh spesies virus yang secara ilmiah memiliki kodifikasi H1N1. Menurut Southwick (2008) dalam Infectious Diseases, kode H1N1 berasal dari dua segmen gen spesifik dari delapan segmen gen yang ada pada ribonucleic acid (RNA) tiap spesies virus. Kedua segmen gen tersebut adalah gen hemagglutinin (H) dan gen neuraminidase (N) yang penting sebagai media pathogenisitas dan immunogenisitas.

Seperti virus-virus lain yang menyebabkan penyakit, virus ini di dalam tubuh sulit dimatikan, namun dengan pemanasan lebih dari 70 derajat Celcius, virus ini dapat dipastikan mati. Hal inilah yang kemudian memberikan kepastian kepada konsumen daging babi, bahwa daging babi tidak menularkan penyakit ini bila dimasak atau dipanaskan dengan benar.

Asal usul virus

Virus ini berasal dari bentukan baru atau reassormen (reassortment) dari satu atau lebih spesies virus. Reassormen dapat diartikan sebagai pertukaran segmen gen dari spesies satu dengan speseis tertentu lainnya. Proses reassormen dan produksi spesies influensa manusia yang virulen dapat terjadi pada babi yang dapat terinfeksi baik dari spesies influenza burung maupun manusia. Virus H1N1 yang merupakan ”koalisi” dari spesies virus flu burung, spesies virus flu manusia dan spesies virus flu babi itulah yang saat ini mengancam kita semua.

Penamaan flu babi sesungguhnya kurang tepat, namun karena reassormen terjadi pada babi, nama itulah yang melekat pada penyakit ini. Virus bentukan baru ini kemudian menjadi penyebab penyakit flu babi pada manusia yang diduga menular dari manusia ke manusia. Penyakit flu babi ini memiliki waktu inkubasi 3-5 hari, dengan gejala-gejala mirip flu biasa yaitu batuk, pilek, suhu tinggi, mual, muntah dan dapat menimbulkan diare.

Pemutusan Rantai

Pencegahan penyakit flu babi pada manusia berprinsip pada pemutusan rantai virus tersebut ke manusia. Beberapa aksi pencegahan dapat dilakukan seperti tersaji berikut ini. Pertama, pelaksanaan biosekuriti pada peternakan-peternakan babi yang menjadi perantara atau rantai penentu timbulnya spesies virus H1N1. Aktivitas ini bisa dilakukan dengan mendesinfeksi dan mengawasi semua ternak babi, terutama terhadap gejala gejala penyakit flu babi.

Gejala flu babi (swine influenza/ swine plaque) pada ternak terdiri dari peningkatan suhu tubuh, batuk dan mengeluarkan lendir dari kerongkongan, perubahan warna mata, mual, muntah, dan selalu berbaring serta tanda tanda lain seperti gangguan pada mata karena terbentuknya conjungtivitis mucopurelent, yang spesifik (Dunne, 1964; Disease of Swine). Walaupun flu babi yang terjangkit pada babi bukan flu babi seperti halnya pada flu babi yang terjangkit pada manusia, namun babi merupakan media pembentuk spesies virus baru (H1N1).

Penemuan terhadap ternak babi yang terkena penyakit harus segera dimusnahkan, dengan mempertimbangkan pemusnahan ternak-ternak di sekitarnya. Program vaksinasi flu babi terhadap ternak ternak babi juga merupakan tindakan yang dianjurkan.

Kedua, perhatian terhadap orang orang pada ring pertama dari ternak babi. Semua orang baik pekerja di peternakan (babi) maupun petugas di bidangnya yang berhubungan langsung (dekat) dengan ternak babi harus diberi perlakuan khusus, misalnya memakai masker hidung dan mulut, dan acap kali mencuci tangan dengan sabun antiseptik.

Ketiga, pengawasan terhadap transportasi. Aktivitas transportasi dapat memindahkan ternak babi maupun manusia (terinfeksi), yang berpotensi menularkan penyakit flu babi baik pada babi maupun pada manusia.

Pengawasan seharusnya diperketat pada ternak (babi) dan penumpang yang berasal dari daerah wabah atau sentra-sentra peternakan babi. Alat deteksi suhu badan dapat dipakai untuk mengawasi penumpang dan ternak (babi) dengan jumlah banyak secara efektif.

Keempat, penanganan penderita penyakit flu babi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan dari manusia ke manusia (cluster). Penularan penyakit ini dari manusia ke manusia diperkirakan lebih mudah dan lebih cepat. Oleh karena itu penanganan penderita flu babi seharusnya dilakukan oleh para petugas kesehatan yang telah diberikan bekal dan piranti bantu untuk keperluan penanganan terhadap penderita.

Kelima, penyuluhan tentang flu babi dan pencegahanya dilakukan kepada komunitas produsen babi dan masyarakat luas agar pelaporan terjadinya penyakit ini baik pada ternak babi ataupun manusia dapat terdeteksi dan terlaporkan serta tertangani dengan lebih cepat dan benar.

Terbentuknya spesies baru virus H1N1, yang berasal dari spesies virus influenza manusia dan spesies virus influenza burung, diketahui terjadi pada babi. Babi sendiri dapat terinfeksi spesies virus influenza babi. Dengan demikian segala upaya agar spesies virus flu burung ataupun spesies virus flu manusia tidak terinfeksi pada babi, merupakan tindakan pencegahan dini terbentuknya (reassormen) virus H1N1.

Korban yang telah berjatuhan di Meksiko dan negara-negara lain seharusnya menjadi keberuntungan kita, karena kita dapat lebih bersiap untuk mencegah datangnya wabah flu babi. Otoritas pencegahan penyakit ini berada pada pemerintah, namun masyarakat wajib dan seharusnya secara proaktif melakukan pencegahan penyakit ini, sehingga kondisi yang aman dari flu babi dapat terwujud. (80)

–– Prof Dr Ir V Priyo Bintoro, MAgr, Guru Besar pada Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.

sumber http://suaramerdeka.com

Entry filed under: tips kesehatan. Tags: .

Antisipasi flu Burung dengan obat alami Atasi Kecanduan Nikotin dengan Pisang

2 Comments Add your own

  • 1. Tunggul Aji W.  |  July 30, 2009 at 10:39 am

    Sebaiknya kita lebih berwaspada dan selalu menjaga kesehatan tubuh kita. misalnya makan yg teratur dengan pola makan yg seimbang(3x sehari) dan harus tepat waktu. jangan terlalu berlebihgan dan jangan pula terlalu kebanyakan… jgn lupa usahakan lari pagi minimal seminggu 2 atau 3x, agar kondisi tubuh kita selalu sehat dan otak kita jernih dari polusi udara sehari2. Sebab apabila daya tahan tubuh kita baik dan stabil, maka virus tdk akan menyerang tubuh kita. namun, apabila daya tahan tubuh kita sedang menurun, maka virus segera menyerang tubuh dengan sangat cepat sekali (kta guru biologi saya). maka dari itu, aturlah pola hidup kita dengan pola & gaya hidup yang sehat. jgn lupa.. jgn manjakan tubuh kita dengan meminum obat2an seperti obat batuk/pilek, amoxilin, dll. usahakan gunakan home remidi agar anti bodi kita tetap kuat dan daya tahan tubuh kita semakin mantap dan tidak tergantung dengan obat2an seperti itu…. oke… mudah2an ilmu yang saya sebar dapat bermanfaat bagi masyarakat indonesia. Amiin……..

    Reply
  • 2. dealer pulsa  |  January 23, 2011 at 8:14 pm

    flu burung dari china, flu babi dari meksiko dari negara kita flu apa yaaa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pilih bahasa

Categories

status

kaskusradio.com

KasKusRadio - Indonesian Radio

rank

Alexa Certified Traffic Ranking for ayobertani.wordpress.com
May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: