Archive for June, 2009

budidaya duku palembang

duku_palembang

DUKU PALEMBANG
Family Meliaceae

Deskripsi

Merupakan salah satu duku unggul dari Sumatera Selatan. Bentuk buahnya bulat atau bulat lonjong. Kulit buahnya tipis, halus, berwarna kuning agak kecokelatan, dan sedikit mengandung getah. Daging buahnya bening dan rasanya manis. Persentase daging buahnya antara 64-77%. Keistimewaannya, duku ini jarang sekali berbiji. Dari sekitar 10-15 buah, biasanya hanya dijumpai sebuah duku yang berbiji. Produktivitas tanaman yang mulai berbuah rata-rata 12 kg/pohon/tahun, sedangkan tanaman yang sudah dewasa dapat menghasilkan 800-900 kg/pohon/tahun.

Manfaat

Buah duku pada prakteknya selalu dimakan dalam keadaan segar setelah dikupas dengan tangan, tetapi buahnya yang tanpa biji dapat dibotolkan dalam sirop. Kayunya yang berwarna coklat muda keras dan tahan lama, serta digunakan untuk tiang rumah, gagang perabotan, dan sebagainya. Kulit buahnya yang dikeringkan di Filipina dibakar untuk rnengusir nyamuk. Kulit buah itu juga dimanfaatkan sebagai obat anti diare, berkat kandungan oleoresinnya. Bagian tanaman lainnya yang digunakan sebagai obat adalah bijinya yang ditumbuk digunakan oleh penduduk setempat di Malaysia untuk menyembuhkan demam, dan kulit kayunya yang rasanya sepet digunakan untuk mengobati disentri dan malaria; tepung kulit kayu juga digunakan sebagai tapal untuk menyembuhkan bekas gigitan kalajengking.

Syarat Tumbuh

Duku dapat tumbuh dan berbuah baik di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl. Duku dapat tumbuh dan be’rbuah baik pada tipe tanah latosol, podsolik kuning, dan aluvial. Curah hujan 1.500-2.500 mm per tahun. Tanah yang sesuai mempunyai pH antara 6-7. Tanaman lebih senang ditanam di tempat yang terlindung. Oleh karena itu, tanaman ini biasanya ditanam di pekarangan atau tegalan, bersama dengan tanaman tahunan lainnya seperti durian, jengkol, atau petai. Duku toleran terhadap kadar garam tinggi, asalkan tanahnya mengandung banyak bahan organik. Duku juga toleran terhadap tanah masam atau lahan bergambut. Tanaman ini toleran terhadap iklim kering, asalkan kandar air tanahnya kurang dari 150 cm. Tanah yang terlalu sarang, seperti pada tanah pasir, kurang baik untuk tanaman duku. Namun, tanah berpasir yang mengandung banyak bahan organik dapat digunakan untuk tanaman duku, asalkan diberi pengairan yang cukup.

Pedoman Budidaya

Tanaman diperbanyak dengan biji. Biji ini dibersihkan dari daging yang melekat pada biji (arilus), kemudian disemaikan langsung karena biji duku tidak dapat disimpan lama. Biji duku bersifat poliembrioni sebesar l0-50%. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan sambung pucuk. Batang bawah berasal dari semai biji duku berumur setahun lebih. Perbanyakan dengan penyusuan berhasil baik, tetapi dapat dipisahkan dari pohon induknya setelah 4-5 bulan kemudian. Sementara, cara okulasi jarang dilakukan karena kesulitan mengambil mata tempelnya. Cara cangkok juga jarang dilakukan karena pertumbuhan bibitnya lemah meskipun dapat berakar. Bibit dari biji mempunyai masa remaja (juvenil) panjang, antara 8-17 tahun. Umur mulai berbuah untuk bibit vegetatif belum jelas, tetapi di Thailand bibit sambungan mulai berbuah pada umur 5-6 tahun. Cabang entres diambil dari varietas unggul yang daunnya masih muda, tetapi sudah mulai menua, biasanya menjelang musim hujan. Untuk memperoleh hasil sambungan tinggi sebaiknya daun cabang entres dirompes dua minggu sebelum cabang dipotong. Di Filipina, sebagai batang bawah yang kompatibel digunakan semai Dysoxylum altisimum Merr. dan Dysoxlum floribundum Merr. Duku ditanam pada jarak tanam 6-8 m dalam lubang berukuran 6o cm x 6o cm x 50 cm. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah jadi sebanyak 20 kg/lubang. Bibit ditanam pada umur 1-2 tahun atau setelah mencapai tinggi 75 cm lebih. Pupuk buatan berupa campuran 100 g urea, 50 g P2O5, dan 50 g KCl per tanaman diberikan empat kali dengan selang tiga bulan sekali. Setelah ditanam, bibit harus diberi naungan dengan atap daun kelapa atau jerami kering. Kondisi lahan di sekitar bibit harus dij aga agar tetap lembap.

Pemeliharaan

Pohon muda hendaknya dinaungi dengan baik dan disirami selama beberapa tahun pertama. Pucuk utama langsat yang bertipe tegak harus dipenggal, dan cabang-cabang lateral yang tumbuh diikat supaya tumbuh mendatar, agar perawakannya lebih memencar. Pada pohon yang lebih tua, hanya pucuk pucuk air dan cabang-cabang yang kena penyakit yang perlu dipangkas. Pemberian mulsa yang banyak dianjurkan. Persyaratan kebutuhan haranya barangkali rendah, berkat pertumbuhannya yang lambat dan hasilnya yang rendah, tetapi pemupukan yang ringan di awal musim hujan dan setelah panen mungkin bermanfaat, terutama jika ingin diproduksi hasil yang besar. Pengairan dapat digunakan untuk mempercepat pembungaan satu atau dua bulan, asalkan calon bunga telah muncul selama periode kering sebelumnya. Perbungaan mulai tumbuh 7-10 hari setelah penyiraman. Suatu masa kering yang pendek, yang terjadi ketika buah masih menempel di pohonnya akan menimbulkan bahaya turunnya panen secara serius, disebabkan oleh pecahnya buah jika kekurangan air itu tiba-tiba dipulihkan.

Hama dan Penyakit

Penyakit busuk akar dan antraknosa merupakan 2 macam penyakit yang berbahaya, yang masing-masing menyerang pohon dan buah duku. Belum jelas betul patogen mana yang menyebabkan busuk akar, sebab belum ada bukti bahwa Phytophthora spp. terlibat dalam hal ini. Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides) tampak berupa bintik kecoklatan yang berukuran kecil sampai besar pada rangkaian buah; serangan ini menyebabkan buah berguguran lebih awal, dan juga menyebabkan kerugian pasca-panen. Penggerek kulit kayu, merupakan hama yang umum, terutama pada langsat yang bertipe tegak, yang seringkali menyebabkan jeleknya penampilan ranting-rantingnya yang mati oleh ulat-ulat ngengat ‘carpenter’ (Cossus sp.) dan ngengat hijau (Prassinoxema sp.). Ulatnya menjadi pupa di dalam lorong. Hama-hama ini aktif sepanjang musim hujan; sebagian kerusakan disebabkan oleh rusaknya kuncup bunga: Petani duku mencolek kulit kayu yang lepas dari cabang yang terserang, membunuh penggerek penggerek yang muncul, dan mengecat dengan insektisida cabang yang telah dibersihkan terlebih dahulu. Penggerek-penggerek lain menyerang batang, ranting, dan buah. Di Malaysia, ulat penggerek buah dapat menyebabkan banyak sekali buah rontok; buah-buah yang terserang itu hendaknya dikumpulkan dan dikubur untuk memotong daur hidup hama ini: Di Indonesia, larva kumbang ‘weevil’ dijumpai di dalam buah duku. Kutu perisai dan kutu kecil (mites) dapat pula menimbulkan kerusakan yang hebat. Kelelawar, burung, dan tikus suka sekali memakan buah duku; pemberantasannya yang efektif adalah menyinari dengan baterai pada rnalam hari dan membungkus tandan-tandan buah dengan kantung-kantung nilon. Daunnya dirusak oleh binatang pengebor daun, penggulung daun, kumbang, dan kutu.

Panen dan Pasca Panen

Buah duku dipanen dengan jalan dipanjat pohonnya dan dipotongi tandan-tandan buahnya yang matarig dengan pisau atau gunting pangkas. Hendaklah hati-hati agar tidak melukai bagian batang tempat menempelnya gagang tandan, sebab perbungaan berikutnpa akan muncul dari situ juga. Kenyataannya, daripada memanjat pohonnya Iebih baik menggunakan tangga, sebab tindakan demikian akan mengurangi kerusalcan kuncup-kuncup bunga yang masih dorman. Diperlukan empat atau lima kali pemanenan sampai semua buah habis dipetik dari pohon. Hanya pemetikan buah yang matang, yang ditaksir dari perubahan warna, yang akan sangat memperbaiki kualitas buah. Umumnya buah yang berada dalam satu tandan akan matang hampir bersamaan, tetapi jika pematangan tidak bersamaan, akan sangat menqulirkan pemanenan. Buah duku harus dipanen dalam kondisi kering, sebab buah yang basah akan berjamur jika dikemas. Penanganan pasca panen Duku merupakan buah yang sangat mudah rusak, kulit buahnya berubah menjadi coklat dalam 4 atau 5 hari setelah dipanen. Buah dapat dibiarkan di pohonnya selama beberapa hari menunggu sampai tandan-tandan lainnya juga matang, tetapi walau masih berada di pohonnya buah-buah itu tetap akan berubah menjadi coklat, dan dalam waktu yang pendek tidak akan laku dijual di pasar. Penyimpanan dalam kamar pendingin dengan suhu 15° C dan kelembapan nisbi 85-90% dapat memungkinkan buah bertahan sampai 2 minggu, jika buah-buah itu direndam dahulu dalam larutan benomil (4 g/1). Buah duku dipasarkan dalam keranjang-keranjang bambu yang dialasi koran bekas atau daun pisang kering. Seringkali buah-buah itu dipilah-pilah dahulu sebelum dijual.

sumber: http://www.iptek.net.id

Advertisements

June 12, 2009 at 11:29 pm 20 comments

cara membuat teh komos

CompostTea

Manfaat secangkir teh bagi kesehatan tubuh manusia rasanya hampir setiap hari digembar-gemborkan. Namun tahukah Anda bahwa teh juga ternyata disukai oleh tumbuhan lain?

Manfaat secangkir teh bagi kesehatan tubuh manusia rasanya hampir setiap hari digembar-gemborkan. Namun tahukah Anda bahwa teh juga ternyata disukai oleh tumbuhan lain?

Ya….teh yang dimaksud di sini adalah teh kompos atau pupuk cair organik yang berguna untuk menyuburkan tanaman. Teh kompos bukan dibuat dari daun teh, melainkan dibuat dari pupuk atau kompos yang berasal dari sampah taman kota atau pasar. Selain menyuburkan, teh kompos dapat digunakan sebagai pestisida organik karena populasi mikrobanya dapat berfungsi sebagai pemberantas hama.

Teh kompos ini sangat mudah dibuat seperti halnya Anda menyeduh teh untuk minuman setiap hari. Namun yang direndam di sini adalah kompos yang hasil perendamannya ini dapat digunakan untuk “obat” dari tanaman. Berikut ini adalah langkah-langkah membuat teh kompos :

1. Siapkan seember air. Anda bisa menggunakan air keran atau air hujan. Biarkan air ini selama sekitar 24 jam untuk mengendapkan kandungan klorin.

2. Siapkan sebuah ember baru yang bersih. Tambahkan satu sekop kompos, atau sekitar 1 galon. Tuangkan air yang telah disiapkan tadi ke dalam ember berisi kompos dengan rasio 5:1 (air/kompos). Aduk hingga tercampur secara merata.

3. Biarkan cairan kompos ini berkembang dan berfermentasi selama kurang lebih tiga hingga tujuh hari. Jangan lupa untuk mengaduk campuran ini secara merata beberapa kali setiap hari untuk memberikan oksigen ke dalam air. Campuran kompos-air ini membutuhkan oksigen, jadi jangan terlalu mengabaikan bagian ini.

4. Setelah sekitar seminggu, saringlah teh kompos dengan selembar kain halus atau nylon. Pisahkan cairan teh kompos yang telah disaring ini dalam sebuah ember kosong, sedangkan kompos yang tersaring kain dapat dicampurkan lagi dengan kompos lain .

5. Cairan teh kompos hasil saringan harus diencerkan lebih dulu dengan cara mencampur 10 bagian air dengan 1 bagian teh kompos. Setelah diencerkan, teh kompos baru dapat disemprotkan ke tanaman. Jangan menyemprotkan teh kompos ke tanaman dalam kondisi panas terik untuk melindungi kerusakan tanaman akibat panas.

6. Siram atau semprotkan teh kompos untuk tanaman Anda setiap dua pekan atau seperlunya. Teh kompos dapat diaplikasikan untuk tanaman yang setidaknya sudah berdaun, meskipun teh kompos juga dapat menyuburkan tanah saat penanaman bibit.

7. Perlu diingat, teh kompos harus selalu beraroma segar dan berbau tanah. Jika beraroma menyengat jangan dulu dipakai tetapi tambahkan lebih banyak air dan aduk lebih dalam dan lebih sering setiap hari. Teh yang beraroma menyengat pertanda kurang mendapat oksigen. Untuk hasil terbaik, gunakan teh kompos satu jam setelah proses fermentasi.

sumber: http://www.situshijau.co.id

June 8, 2009 at 10:46 am 10 comments

budidaya PILI

piliPILI

Family BURSERACEAE

Deskripsi

Tanaman pili merupakan pohon dioesis yang selalu hijau, tingginya mencapai 20 m, dan diameternya 50 cm. Stipulanya kekal, berbentuk segitiga sampai berbentuk lidah (ligulate), berukuran (5-20) mm x (3-10) mm. Daunnya majemuk beranak daun 2-4 helai, bersirip ganjil, tersusun spiral, panjangnya mencapai 40 cm; anak-daunnya bundar telur sampai jorong, berukuran (4-24) cm x (2-12) cm, menjangat-kaku, berpinggiran rata, pangkalnya miring, membundar sampai bentuk jantung sungsang, ujungnya luncip mendadak, memiliki 8-12 pasang urat daun. Perbungaannya muncul dl ketiak daun, bergerombol di ujung cabang, berbentuk ‘tyrsoid’ sempit, panjangnya 3-12 cm, menyandang bunga sedikit saja; bagian-bagian bunga berkelipatan tiga, bunga berkelamin tunggal, berukuran sampai 12 mm, bertangkai pendek sekali, berbulu halus panjang; daun kelopaknya berbentuk cawan, pada bunga jantan ukurannya 7 mm, pada bunga betina 8-9 mm; daun mahkotanya berukuran 2 x 1 cm; benang sarinya 6 utas, pada bunga jantan benang sari itu agak menempel ke cakramnya, menancap di bibir cakram, dan pada bunga betina benang sari ini steril; pada bunga jantan putik tidak ada, sedangkan pada bunga betina panjangnya 7 mm; bakal buahnya beruang tiga, tangkai putiknya 1,S mm, dan kepala putiknya bercuping tiga. Buahnya bertipe buah batu, berbentuk agak bulat telur sampai agak jorong, panjangnya 3,5-6,25 cm, berdiameter 2-2,75 cm, berbentuk lancip dan penampang melintangnya segitiga; eksokarpnya tipis, tak berbulu, berkilap, berubah dari hijau muda ke hitam-lembayung, mesokarpnya berserat, berdaging dan tebal, endokarpnya (batok) memanjang, mengeras, bersegi tiga, pangkalnya lancip, ujungnya tumpul, berwarna coklat soga sampai coklat kotor, sel-sel yang steril sedikit sekali jumlahnya. Berbiji tunggal dengan kulit biji yang berwarna coklat. Biji pili, yang merupakan kira-kira 11% dari berat buah segar, mengandung 41,8% air, dan dari berat keringnya diperoleh 13,9% protein dan 73,1 % lemak. Nilai energinya adalah 2700 kJ/100 g. Minyaknya mengandung 59,6% gliserida oleat dan 38,2% gliserida palmitat. Kulit buah, yang banyaknya kira-kira 65% dari berat buah, mengandung 73% air, dan dari berat keringnya diperoleh 8% protein, 33,6% lemak, 45,8% karbohidrat, dan 9,2% abu. Nilai energinya adalah 2230 kJ/100 g. Minyaknya mengandung 56,7% gliserida oleat, 13,5% gliserida linoleat, dan 29,3176 asam lemak jenuh. Berat bijinya 0,74-5,13 g.

Manfaat

Inti biji pili digunakan secara komersial pada pembuatan berbagai macam produk konfeksi dan roti, serta sebagai penyedap pada es krim. Kemudahan pengekstrakan minyak makan dari bijinya (yang kualitasnya sebanding dengan minyak zaitun) secara komersial belum lagi dipelajari. Batok buahnya yang keras dan tebal, yang membungkus biji merupakan bahan bakar yang balk untuk memasak. Jika digosok dan divernis, batok itu dapat menjadi cendera mata yang menarik. Dalam industri, batok ini dibuat arang, sedangkan pengaktifan karbonnya masih perlu dijajagi. Kulit buah pili yang matang dapat dimakan setelah direbus, dan biasanya dimakan setelah diolah serta diberi garam dan saus ikan. Kulit ini juga mengandung minyak yang kadang-kadang diekstrak dan digunakan untuk memasak serta untuk penerangan. Pucuk mudanya juga dapat dimakan dan digunakan sebagai lalapan. Kayunya yang banyak mengandung resin sangat baik untuk kayu bakar. Pohon pili yang selalu hijau itu merupakan pohon yang cocok sekali sebagai penahan angin, sebab tahan terhadap angin kencang dan bahkan angin topan sekalipun. Dengan percabangannya yang simetris, tanaman pili sangat menarik sebagai tanaman pinggir jalan dan pohon pelindung.

Syarat Tumbuh

Pili tumbuh dengan balk pada tanah yang ringan maupun tanah yang berat. Juga tahan hidup dalam kisaran iklim yang luas, tumbuh baik dari mulai ketinggian 0 m sampai 400 m dpl. Juga pernah dilaporkan bahwa pili dapat tumbuh dan berbuah dengan balk di dataran tinggi, walaupun di Florida tanaman ini tidak toleran terhadap cuaca dingin dan hujan salju yang ringan sekalipun. Pohon dewasanya dapat tahan embusan angin kencang.

Pedoman Budidaya

Pili masih tetap diperbanyak dengan benih, walaupun keturunannya akan berubah sifatnya. Semainya memerlukan waktu 40-50 hari untuk berkembang; semai-semai itu dipotkan dalam kantung-kantung plastik, dipelihara di pesemaian, dan dapat dipindahtanamkan ke lapangan pada umur 1-2 tahun, atau digunakan sebagai batang bawah. Penyambungan tambalan (patch budding) kini merupakan cara yang dianjurkan pada perbanyakan aseksual dengan keberhasilan 85-90%. Penyambungan celah (cleft budding) juga berhasil. Beberapa kultivar pill bereaksi positif terhadap pencangkokan, tetapi penyembuhannya sangat jelek setelah cangkokan yang telah berakar itu dipotong dari pohon induknya.

Pemeliharaan

Pohon-pohon pill kebanyakan tumbuh di hutan, di pekarangan, dan di pinggir jalan. Tata laksana bahan klon pili yang telah disempurnakan hendaknya diteliti setelah ditanam di kebun buah atau di perkebunan.

Hama dan Penyakit

Pill belum pernah dilaporkan diserang oleh penyakit atau hama yang mem-bahayakan. Serangan antraknosa pada pucuk semai muda telah diamati, tetapi penyakit ini dapat mudah diberantas dengan fungisida. Buah pili yang sedang berada pada tahap pematangan seringkali dilapisi oleh pertumbuhan ganggang, tetapi kecuali mengganggu penampilan kulitnya, penyakit ini tidak mengganggu kulit buah maupun inti biji.

Panen dan Pasca Panen

Musim buah berlangsung antara bulan Mei dan Oktober, dengan puncaknya terjadi pada bulan Juni sampai Agustus. Walaupun semua buah yang memperlihatkan variasi warna mendekati lembayung dipanen, setiap pohon perlu dipanen beberapa kali. Biasanya seseorang memanjat pohon untuk memetik buah pili, yang lainnya mengumpulkan buah-buah yang berjatuhan. Galah bambu yang diberi kait kawat di ujungnya umum digunakan untuk memetik buah pill. Buah yang berjatuhan itu dikumpulkan ke dalam keranjang atau karung dan dibawa pulang untuk selanjutnya diolah. Pemakaian zat pengatur tumbuh untuk memacu pematangan dan rontoknya buah pili agar seragam perlu diteliti.

sumber http://www.iptek.net.id

June 5, 2009 at 9:32 pm Leave a comment


Pilih bahasa

Categories

status

kaskusradio.com

KasKusRadio - Indonesian Radio

rank

Alexa Certified Traffic Ranking for ayobertani.wordpress.com
June 2009
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930