budidaya PILI

June 5, 2009 at 9:32 pm Leave a comment

piliPILI

Family BURSERACEAE

Deskripsi

Tanaman pili merupakan pohon dioesis yang selalu hijau, tingginya mencapai 20 m, dan diameternya 50 cm. Stipulanya kekal, berbentuk segitiga sampai berbentuk lidah (ligulate), berukuran (5-20) mm x (3-10) mm. Daunnya majemuk beranak daun 2-4 helai, bersirip ganjil, tersusun spiral, panjangnya mencapai 40 cm; anak-daunnya bundar telur sampai jorong, berukuran (4-24) cm x (2-12) cm, menjangat-kaku, berpinggiran rata, pangkalnya miring, membundar sampai bentuk jantung sungsang, ujungnya luncip mendadak, memiliki 8-12 pasang urat daun. Perbungaannya muncul dl ketiak daun, bergerombol di ujung cabang, berbentuk ‘tyrsoid’ sempit, panjangnya 3-12 cm, menyandang bunga sedikit saja; bagian-bagian bunga berkelipatan tiga, bunga berkelamin tunggal, berukuran sampai 12 mm, bertangkai pendek sekali, berbulu halus panjang; daun kelopaknya berbentuk cawan, pada bunga jantan ukurannya 7 mm, pada bunga betina 8-9 mm; daun mahkotanya berukuran 2 x 1 cm; benang sarinya 6 utas, pada bunga jantan benang sari itu agak menempel ke cakramnya, menancap di bibir cakram, dan pada bunga betina benang sari ini steril; pada bunga jantan putik tidak ada, sedangkan pada bunga betina panjangnya 7 mm; bakal buahnya beruang tiga, tangkai putiknya 1,S mm, dan kepala putiknya bercuping tiga. Buahnya bertipe buah batu, berbentuk agak bulat telur sampai agak jorong, panjangnya 3,5-6,25 cm, berdiameter 2-2,75 cm, berbentuk lancip dan penampang melintangnya segitiga; eksokarpnya tipis, tak berbulu, berkilap, berubah dari hijau muda ke hitam-lembayung, mesokarpnya berserat, berdaging dan tebal, endokarpnya (batok) memanjang, mengeras, bersegi tiga, pangkalnya lancip, ujungnya tumpul, berwarna coklat soga sampai coklat kotor, sel-sel yang steril sedikit sekali jumlahnya. Berbiji tunggal dengan kulit biji yang berwarna coklat. Biji pili, yang merupakan kira-kira 11% dari berat buah segar, mengandung 41,8% air, dan dari berat keringnya diperoleh 13,9% protein dan 73,1 % lemak. Nilai energinya adalah 2700 kJ/100 g. Minyaknya mengandung 59,6% gliserida oleat dan 38,2% gliserida palmitat. Kulit buah, yang banyaknya kira-kira 65% dari berat buah, mengandung 73% air, dan dari berat keringnya diperoleh 8% protein, 33,6% lemak, 45,8% karbohidrat, dan 9,2% abu. Nilai energinya adalah 2230 kJ/100 g. Minyaknya mengandung 56,7% gliserida oleat, 13,5% gliserida linoleat, dan 29,3176 asam lemak jenuh. Berat bijinya 0,74-5,13 g.

Manfaat

Inti biji pili digunakan secara komersial pada pembuatan berbagai macam produk konfeksi dan roti, serta sebagai penyedap pada es krim. Kemudahan pengekstrakan minyak makan dari bijinya (yang kualitasnya sebanding dengan minyak zaitun) secara komersial belum lagi dipelajari. Batok buahnya yang keras dan tebal, yang membungkus biji merupakan bahan bakar yang balk untuk memasak. Jika digosok dan divernis, batok itu dapat menjadi cendera mata yang menarik. Dalam industri, batok ini dibuat arang, sedangkan pengaktifan karbonnya masih perlu dijajagi. Kulit buah pili yang matang dapat dimakan setelah direbus, dan biasanya dimakan setelah diolah serta diberi garam dan saus ikan. Kulit ini juga mengandung minyak yang kadang-kadang diekstrak dan digunakan untuk memasak serta untuk penerangan. Pucuk mudanya juga dapat dimakan dan digunakan sebagai lalapan. Kayunya yang banyak mengandung resin sangat baik untuk kayu bakar. Pohon pili yang selalu hijau itu merupakan pohon yang cocok sekali sebagai penahan angin, sebab tahan terhadap angin kencang dan bahkan angin topan sekalipun. Dengan percabangannya yang simetris, tanaman pili sangat menarik sebagai tanaman pinggir jalan dan pohon pelindung.

Syarat Tumbuh

Pili tumbuh dengan balk pada tanah yang ringan maupun tanah yang berat. Juga tahan hidup dalam kisaran iklim yang luas, tumbuh baik dari mulai ketinggian 0 m sampai 400 m dpl. Juga pernah dilaporkan bahwa pili dapat tumbuh dan berbuah dengan balk di dataran tinggi, walaupun di Florida tanaman ini tidak toleran terhadap cuaca dingin dan hujan salju yang ringan sekalipun. Pohon dewasanya dapat tahan embusan angin kencang.

Pedoman Budidaya

Pili masih tetap diperbanyak dengan benih, walaupun keturunannya akan berubah sifatnya. Semainya memerlukan waktu 40-50 hari untuk berkembang; semai-semai itu dipotkan dalam kantung-kantung plastik, dipelihara di pesemaian, dan dapat dipindahtanamkan ke lapangan pada umur 1-2 tahun, atau digunakan sebagai batang bawah. Penyambungan tambalan (patch budding) kini merupakan cara yang dianjurkan pada perbanyakan aseksual dengan keberhasilan 85-90%. Penyambungan celah (cleft budding) juga berhasil. Beberapa kultivar pill bereaksi positif terhadap pencangkokan, tetapi penyembuhannya sangat jelek setelah cangkokan yang telah berakar itu dipotong dari pohon induknya.

Pemeliharaan

Pohon-pohon pill kebanyakan tumbuh di hutan, di pekarangan, dan di pinggir jalan. Tata laksana bahan klon pili yang telah disempurnakan hendaknya diteliti setelah ditanam di kebun buah atau di perkebunan.

Hama dan Penyakit

Pill belum pernah dilaporkan diserang oleh penyakit atau hama yang mem-bahayakan. Serangan antraknosa pada pucuk semai muda telah diamati, tetapi penyakit ini dapat mudah diberantas dengan fungisida. Buah pili yang sedang berada pada tahap pematangan seringkali dilapisi oleh pertumbuhan ganggang, tetapi kecuali mengganggu penampilan kulitnya, penyakit ini tidak mengganggu kulit buah maupun inti biji.

Panen dan Pasca Panen

Musim buah berlangsung antara bulan Mei dan Oktober, dengan puncaknya terjadi pada bulan Juni sampai Agustus. Walaupun semua buah yang memperlihatkan variasi warna mendekati lembayung dipanen, setiap pohon perlu dipanen beberapa kali. Biasanya seseorang memanjat pohon untuk memetik buah pili, yang lainnya mengumpulkan buah-buah yang berjatuhan. Galah bambu yang diberi kait kawat di ujungnya umum digunakan untuk memetik buah pill. Buah yang berjatuhan itu dikumpulkan ke dalam keranjang atau karung dan dibawa pulang untuk selanjutnya diolah. Pemakaian zat pengatur tumbuh untuk memacu pematangan dan rontoknya buah pili agar seragam perlu diteliti.

sumber http://www.iptek.net.id

Entry filed under: pertanian. Tags: .

budidaya labu air cara membuat teh komos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pilih bahasa

Categories

status

kaskusradio.com

KasKusRadio - Indonesian Radio

rank

Alexa Certified Traffic Ranking for ayobertani.wordpress.com
June 2009
M T W T F S S
« May    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

%d bloggers like this: