Posts filed under ‘peternakan’

BUDIDAYA AYAM BURAS

peternakan1
A. SASARAN
Meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan Ayam Buras sesuai dengan umur ayam.

B. KELUARAN
Ayam buras yang memiliki produktivitas tinggi.

C. BAHAN DAN ALAT
Bahan : Anak ayam, pakan, vaksin dan obat-obatan. Alat : Kandang, peralatan kandang dll.
Alat : Kandang, peralatan kandang dll.

D. PEDOMAN TEKNIS
Untuk mendapatkan calon bibit dan pejantan yang baik adalah a), bibit harus sehat dan tidak cacat b). lincah dan gesit, c). penampilan tegap, d). mata bening dan bulat, e). rongga perut elastis, f). bulu halus dan mengkilap, g) produksi dan daya tetas tinggi, h) tidak mempunyai sifat kanibal, i). umur bibit antara 5-12 bulan, untuk pejantan antara umur 8-15 bulan.

1. Konstruksi Kandang
a. Kandang sistem litter
Kandang sistem ini digunakan untuk usaha skala besar (intensif), konstruksinya kokoh dan terbuat dari bahan-bahan yang kuat sehingga diharapkan dapat bertahan lama. Lantai kandang dipadatkan atau disemen dan diberi alas sekam setebal 5-10 cm.

b. Kandang bertingkat
Kandang Sistem ini digunakan untuk pemeliharaan semi intensif. Ukuran kandang disesuaikan dengan kebutuhan, untuk kandang ukuran 2 x 5 m dapat menampung 40 ekor ayam berumur 2 – 3 bulan atau 30 ekor ayam dewasa.

2. Persyaratan Kandang
Tempat kering, tidak mudah tergenang air, jauh dari keramaian, mempunyai ventilasi yang baik, sehat dan bersih, kokoh dan kuat serta cukup mendapat sinar matahari.

3. Tempat Pakan
Tempat kering, tidak mudah tergenang air, jauh dari keramaian, mempunyai ventilasi yang baik, sehat dan bersih, kokoh dan kuat serta cukup mendapat sinar matahari.

4. Cara Pemberian Pakan
a. Untuk anak ayam umur 1 – 6 hari (kutuk), pakan ditabur atau sediakan pada wadah yang mudah terjangkau, jenis pakan yang dipakai adalah ransum ayam ras starter (pakan komersial).
b. Ayam umur 7 hari s/d 1 bulan dapat diberikan pakan campuran yaitu pakan ayam ras starter dicampur dengan katul dan dedak halus, dengan perbandingan 1: 1 atau jagung giling dan katul dengan perbandingan 2 : 1 dan dapat di tambah protein hewani.
c. Ayam umur 2-4 bulan dan seterusnya, diberikan pakan campuran, dedak halus, jagung giling, dan pakan komersil dengan perbandingan 3:1:1 dan dapat di tambahan gabah, gaplek dan tepung ikan.

5. Pencegahan Penyakit
Untuk mencegah penyakit tetelo (ND) dilakukan vaksinasi, pada umur 3-4 hari menggunakan vaksin Bl(melalui tetes mata atau hidung), diulangi setelah 3 minggu dengan vaksin Lasota dan kemudian setiap 3 bulan.

SISTEM PENETASAN AYAM BURAS

A. SASARAN
Meningkatkan daya tetas telur dengan sangkar eraman tradisionil.

B. KELUARAN
Tingkat daya tetas telur 77,37 % dan kematian embriyo 16,64%

C. BAHAN DAN ALAT
Bahan : Sangkar bambu, bambu, kawat, paku, rumput kering
Alat : Gergaji, pisau serut, palu, tang dll.

D. PEDOMAN TEKNIS

Sangkar penetasan tradisional yang terbuat dan anyaman bambu berbentuk kerucut mempunyai daya tetas cukup tinggi dibandingkan dengan sistem tradisionil lainnya, demikian juga kematian embriyo lebih rendah dan suhu penetasan dalam sangkar pengeraman cukup baik.

1. Cara Pembuatan Sangkar

Potong bambu berdiameter 25 – 50 cm sepanjang 125 cm, 1/3 bagian potongan tersebut untuk dibuat sangkar, oleh karena itu memotongnya harus diatas ruas, sedangkan 2/3 bagian lainnya untuk tiang penyanggga.
Sepertiga potongan bambu bagian atas dibelah-belah kecil kira-kira 1 – 1,5 cm, diraut atau dihaluskan, kemudian dianyam dengan belahan bambu tipis yang dimulai dari bagian ujung bawah belahan bambu tadi hingga berbentuk kerucut. Bagian ujung paling atas diikat dengan kawat tali agar anyamannya tidak terlepas.
Setelah sangkar terbentuk kemudian diletakan di tempat yang aman dan jauh dari keramaian serta terhindar dari gangguan binatang.
Bagian bawah sangkar tersebut diberi alas rumput kering atau jerami kering sebagai tempat diletakannya telur dan sekaligus sebagai tempat penetasan.

2. Keuntungan

Keuntungan sistem penetasan dengan menggunakan sangkar kerucut ini adalah daya tetas telur dapat mencapai 77,37%, kematian embriyo 16,64%, suhu maximum 102,27 °F dan suhu minimum 83,50 F. Hasil ini lebih baik bila dibandingkan dengan penetasan dengan meggunakan kotak kayu atau bahan lainnya.

SELEKSI CALON INDUK AYAM BURAS

A. SASARAN
Meningkatkan produktivitas ayam buras melalui pemilihan calon induk yang baik dan berproduksi tinggi.

B. KELUARAN
Teknik pemilihan calon induk yang baik.

C. PEDOMAN TEKNIS

Cara Pemilihan Calon Induk dan pejantan

a. Calon induk betina :
– Ukuran tubuh besar
– Sehat dan tidak cacat
– Lincah dan gesit
– Mata bening dan bulat
– Rongga perut elastis
– Produksi dan daya tetas telur tinggi
– Tidak mempunyai sifat kanibal.
– Bebas dari penyakit
– Umur 5-12 bulan
– Jarak tulang paha cukup lebar.

b. Calon pejantan :
– Sehat dan tidak cacat
– Penampilan tegap
– Bulu halus dan mengkilap
– Tidak mempunyai sifat kanibal
– Umur 8-24 bulan.

Perbandingan betina dan jantan

Perbandingan antara induk dan pejantan dapat disesuaikan dengan kondisi. Bila jantan berumur 8-12 bulan, perbandingannya yaitu 8-1 artinya 8 ekor betina dicampurkan dengan 1 ekor pejantan.
Untuk jantan berumur 8-20 bulan, perbandingannya 10 : 1 artinya 10 ekor betina dicampurkan dengan 1 ekor pejantan.

TATALAKSANA PEMELIHARAAN ANAK AYAM BURAS DENGAN KANDANG INDUKAN

A. SASARAN
Meningkatkan produktivitas ayam buras melalui pemeliharaan tanpa induk.

B. KELUARAN
Konstruksi kotak indukan dan persyaratannya, sebagai wadah pemeliharaan anak ayam.

C. BAHAN DAN PERALATAN
Bahan : Bambu, ram kawat diameter 0,5 – 1 cm, paku, kunci, kayu balok, engsel, lampu minyak tanah (listrik) dll.
Alat : Gergaji, palu, golok, dll

D. PEDOMAN TEKNIS

1. Konstruksi Kandang Indukan

Kerangka kandang terbuat dari kayu kaso 5×7 dengan ukuruan disesuaikan dengan kebutuhan. Alas kandang terbuat dan ram kawat ukuruan 0,5 cm.
Binding kandang terbuat dari bambu ukuran 1,5-2 cm, dengan jarak kerapatan antara bambu disesuaikan dengan kebutuhan, yang berfungsi juga sebagai ventilasi. Pintu kandang dibuat pada bagian atas kadang untuk memudahkan pada waktu memindahkan anak ayam. Untuk 30 ekor anak ayam, diperlukan ukuran 100x50x30 cm.

2. Cara Pemeliharaan

Kotak indukan sebelum dipergunakan dikapur terlebih dahulu, dan biarkan selama 3 hari untuk menghindarkan timbulnya bibit penyakit.
Anak ayam (DOC) yang baru berumur 2-3 hari kemudian dimasukkan ke dalam kotak indukan.
Untuk menghangatkan suhu di dalam kotak indukan diberi lampu listrik 10-15 watt, untuk anak ayam berumur 1-7 hari lampu di nyalakan siang malam, untuk anak ayam berumur 8-15 hari lampu dinyalakan malam hari saja, setelah umur 15 hari tidak diberi lampu pemanas, kecuali untuk penerangan malam hari.
Pada waktu malam, hujan dan angin, kotak indukan ditutup dengan karung goni atau bahan lainnya supaya ayam terhmdar dan kedmginan atau stres.
Tempat pakan dan air minum diletakkan di dalam kotak indukan, dan diletakan pada tempat yang mudah terjangkau..
Kandang diusahakan selalu dalam keadaan bersih, misalnya dengan membersihkannya 2-5 kali dalam seminggu.
Menempatkan kotak indukan harus di tempat bersih dan terang serta terhindar dari sinar matahari langsung, hujan, dan gangunan binatang, seperti ular, tikus dan kucing. Anak ayam dipelihara dalam kotak indukan hingga umur 6 minggu.

3. Cara Pemberian Pakan

Ayam berumur 1-7 hari diberikan makanan ransum ayam ras starter (sama dengan ayam ras). Ayam berumur 2-4 minggu diberikan pakan campuran ransum ras starter ditambah katul, dedak halus, atau jagung giling halus dengan perbandingan 2 : 1 ditambah sumber protein.
Ayam berumur 1 – 2 bulan diberikan pakan dedak, nasi jagung giling, dan lain sebagainya dan diberikan pada pagi hari.
Air minum disediakan setiap saat, untuk anak ayam berumur 2 hari air minumnya ditambah gula pasir dengan perbandmgan 1 liter air dengan 1 sendok gula, sedangkan untuk anak ayam berumur 2-7 hari minumnya dicampur dengan Vitachik (obat anti stres).

4. Pencegahan/Pengobatan Penyakit

Penyakit ND (tetelo), dengan vaksinasi melalui tetes mata atau hidung pada anak ayam umur 3-4 hari, umur 3 minggu dan setiap 3 bulan secara teratur, peralatan dan kandang dijaga supaya tetapbersih..
Vaksinasi pertama ayam umur 3-4 hari dengan vaksin Bl, diulangi setelah 3 minggu dengan vaksin Lasota dan kemudian setiap 3 bulan.
Penyakit cacar ayam, dengan memberikan vaksinasi, mencungkil kutil-kutil dengan gunting dan diolesi dengan yodium tintur, atau obat anti infeksi dan cuci hamakan kandang.
Penyakit kolera ayam, dengan memberikan obat sulfa atau teramisin yang dapat dibeli di Poultry shop.

SISTEM PERKANDANGAN AYAM BURAS

A. SASARAN
Menciptakan bentuk kandang yang sesuai dengan kondisi ayam, sehingga produktivitasnya meningkat.

B. KELUARAN
Konstruksi dan persyaratan kandang sebagai sarana perkembang-biakan.

C. BAHAN DAN ALAT
Bahan : Kayu balok, bambu, kawat, paku, atap, pasir, semen, dll.
Alat : Palu, gergaji, golok, kuas, obeng, dll.

D. PEDOMAN TEKNIS

1. Bentuk Kandang

Bentuk kandang umumnya ada dua yaitu kandang sistem litter dan kandang panggung atau bertingkat. Kandang sistem litter biasanya digunakan untuk usaha skala besar (intensif), lantai kandang dipadatkan atau disemen dan diberi alas sekam padi setebal 5-10 cm. Kandang sistem panggung (semi intensif) banyak dipergunakan terutama di daerah padat penduduk atau karena keterbatasan lahan. Pada sistem kandang mi biasanya disediakan halaman yang dikelilingi pagar (rens) sebagai tempat bermain.

2. Ukuran Kandang

kuran kandang dapat disesuaikan dengan kondisi dan tersedianya bahan serta biaya. Ukuran kandang 2 x 5 m dapat menampung 40 ekor anak ayam buras berumur 2-3 bulan, atau 30 ekor ayam dewasa. Pagar keliling dapat disesuaikan menurut luas kandang atau luas tanah yang tersedia. Luas kandang 2 x 5 m, ukuran pagar keliling cukup 6 x 10m.

3. Kolong Kandang

Kolong kandang perlu dibuatkan lubang untuk menampung kotoran ayam agar kotoran ayam tidak tercecer. Manfaat kotoran adalah sebagai pupuk kandang.

4. Persyaratan Kandang

– tempat kering, sehat, bersih dan tidak mudah tergenang air
– jauh dari keramaian
– mempunyai ventilasi yang baik
– kokoh dan kuat
– cukup mendapat sinar matahari.

5. Peralatan Kandang

Tempat pakan dan air minum
Tempat pakan dan air minum diusahakan terbuat dari bahan yang tidak berkarat, seperti papan, belahan bambu, plastik atau belahan paralon.
Tempat pakan dibuat berbentuk V akan lebih efisien, karena makanan terkumpul di bagian bawah sehingga ternak sulit untuk mencakarnya.
Penempatan tempat air minum untuk sistem intensif hams di dalam kandang dan berada kira-kira 10 cm di atas permukaan lantai, sedangkan sistem semi intensif penempatan pakan atau air minum dapat diletakan di dalam atau di halaman kandang asalkan tidak terkena air hujan atau sinar matahari langsung.

PEMBERIAN PAKAN CAMPURAN PADA AYAM BURAS

A. SASARAN
Menciptakan formula pakan yang mengandung zat nutrisi dengan memanfaatkan bahan pakan yang murah dan mudah didapat.

B. KELUARAN
Formula pakan yang berprotein dan di senangi ayam.

C. BAHAN DAN ALAT

Bahan : Ayam, ransum, bahan pakan.

Alat : Kandang dan Perlengkapan kandang

1. Susunan Ransum Ayam Buras Periode Produksi

Ransum campuran yang terdiri dari 3 bagian ransum komersial, 6 bagian dedak halus dan 4 bagian jagung giling ditambah grit dan vitamin B-12 (sistem intensif).
Ransum campuran yang terdiri dari 1 bagian ransum komersial, 4 bagian dedak halus dan 3 bagian jagung giling ditambah grit dan hijauan.
Ransum dengan campuran 3 bagian ransum komersial, 4 bagian dedak halus dan 3 bagian jagung giling terutama sistem pemeliharaan dalam kandang sistem baterai.

Susunan ransum ayam buras betina dewasa

Ransum ayam buras betina dewasa untuk 100 kg adalah sebagai berikut : jagung giling 28,2 kg, dedak halus 58,5 kg, tepung ikan 6,3 kg, tepung kapur 6,5 kg, garam 0,2 kg dan premix A 0,3 kg. Kandungan zat nutrisi tersebut diatas adalah protein kasar 15%; dan energi metabolis 2.312kkal/kg.

2. Susunan Ransum Ayam Dara Umur 12-20 Minggu

Terdapat 4 jenis ransum ayam buras. Salah satunya diantaranya adalah sebagai berikut: jagung giling 41 kg, dedak halus 53 kg, tepung ikan 2 kg, bungkil kedelai 0,9 kg, tepung tulang 0,8 kg, tepung kapur 1,75 kg, premix A 0,25 kg, garam 0,2 kg dan lisin 0,1 kg.
Kandungan zat nutrisi ransum ayam dara adalah sebagai berikut : protein kasar 10-14% , energi metabolis 2.700 kkal/kg ransum, lemak 5-7%, serat kasar 9-10%, Kalsium (Ca) 1-1,2% dan fospor ( P) 0,28 -0,95%.

3. Ransum Anak Ayam Umur 1 Hari-12 Minggu

Jagung giling 36 kg; dedak halus 45 kg, bungkil kelapa 9 kg, bungkil kedelai 7 kg, tepung kapur 2,5 kg, premix A 0,2 kg, garam 0,2 kg dan lisin 0,03 kg. Kandungan zat nutrisi ransum anak ayam muda adalah : protein kasar 14-15%, energi metabolis 2.300-2.900 kkal/kg ransum, lemak 5-8 %, serat kasar 6,7%, kalsium (Ca) 1-2,5% dan fospor (P) 0,9-1,5%.

D. PEDOMAN TEKNIS

1. Cara Pencampuran

Pencampuran sebaiknya dilakukan secara bertahap. Apabila ayam yang dipelihara jumlahnya sedikit , maka pencampuran ransum sebaiknya dilakukan untuk kebutuhan 1 minggu atau cukup membuat campuran ransum untuk 10 kg. Tujuannya adalah untuk menghindari agar makanan tidak berjamur.

2. Cara Pemberian

Pemberian ransum untuk ayam dewasa dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore. Kebutuhan ransumnya berkisar 70-100 gram/ekor/hari. Bila perlu diberikan pakan tambahan berupa hijauan atau sayuran. Untuk anak ayam umur 1 hari sampai 12 minggu ransum dan air minum harus tersedia setiap saat dan tidak terbatas jumlahnya. Pemberian ransum pada anak ayam muda sebaiknya 3-4 kali sehari. Hindari pemberian ransum yang berlebihan agar ransum tidak terbuang dan berjamur.

3. Tempat Pakan

Tempat ayam sebaiknya terbuat dari bahan yang tidak berkarat seperti bambu atau paralon yang dibelah, belahan bambu ini hanya masuk kepala ayam agar ransum tidak dicakar dan tumpah.

INSEMINASI BUATAN PADA AYAM BURAS

A. SASARAN
Meningkatkan produktivitas ayam buras melalui seleksi pejantan dan induk.

B. KELUARAN
Ayam buras yang memiliki kemampuan berproduksi tinggi.

C. BAHAN DAN ALAT

Bahan : Ayam buras jantan dan betina dewasa, kandang, bahan pengencer NaCl fisiologis (NaCl 0,0% infuse, dextrose 5% + NaCl 0,9% infuse), laming telur, air kelapa inuda, anti biotik (penisilm/strepmycin).

Alat : Suntikan (tanpa jarum), tabling penyedot, tabling gelas, termos kecil dll.

D. PEDOMAN TEKNIS

a. Penyiapan ayam pejantan

– Pilih ayam pejantan sehat berumur antara 12-30 bulan tidak cacat tubuh berasal dari keturunan induk yang berproduksi tinggi dan nafsu kawionya baik.
– Dikaridangkan teipisah pada kondisi yang nyaman
Sebelum pengambilan sperma, ayam pejantan sebaiknya dipuasakaii 4-6 jam sebelumnya.

b. Penyiapan ayam pejantan

– Ayam pejantan diapit diantara lengan dan badan, kemudian lakukan rangsangan dengan cara mengurut berulangkali pada bagian punggung, yaitu dari pangkal leher sampai bagian pangkal ekor.
– Dengan rangsangan tersebut ayam akan ereksi, ditandai dengan meregangnya bulu ekor ke atas dan mencuatnya alat kelamin (penis) ke permukaan kloaka.
– Pada saat yang bersamaan tekan bagian bawah ekor dan alat kelamin akan mengeluarkan sperma berwarna putih agak kental.
– Cairan sperma segera ditampung dengan alat suntik (tanpa jarum) yang diberi selang plastik kecil, atau dengan tabung penyedot.
– Penampungan sperma bisa dilakukan 2 kali setiap 15 menit.

c. Pengenceran sperma

– Setiap ekor pejantan dapat menghasilkan rata-rata 0,30 ml sperma (0,20-0,50 ml).
– Sperma bisa disuntikan langsung ke ayam betina (tanpa diencerkan) dengan dosis 0,02-0,03 ml menggunakan suntikan (sirynge).
– Pengencer sperma dapat digunakan cairan garam fisiologis infuse (NaCl 0,9% dalam aquades, atau ringers infuse, dextrose 5% + NaCl 0,9% infuse).
– Pengencer sperma dapat dibuat pula campuran fisiologis infuse + kuning telur dengan perbandingan 4:1.
– Selain itu pengencer dapat dibuat dari campuran air kelapa muda + kuning telur dengan perbandingan 4:1.
– Pengenceran sperma dilakukan dengan perbandingan 1 : 10 (1 bagian sperma : 10 bagian pengencer).

d. Pelaksanaan Inseminasi

– Ayam betina yang akan disuntik (di inseminasi) harus dalam keadaan sedang bertelur atau pada masa bertelur
– Penyuntikan (inseminasi) pada ayam ada 2 metode yaitu metode intra vaginal dan metode intra uterine.
– Metode intra vaginal artinya sperma disuntikkan ke dalam vagina (alat kelamin betina) dengan kedalaman ± 3 cm
– Metode intra uterine, artinya sperma disuntikkan ke bagian uterus dengan kedalaman 7-8 cm.
– Sperma yang sudah diencerkan dimasukkan ke dalam alat suntik (sirynge) kecil, dosis sperma yang disuntikkan 0,02-0,03 ml. (± 300 juta sperma).
– Usahakan agar ayam betina yang sudah disuntik tidak mengalami stres.

sumber http://www.nguntoronadi.wonogiri.org

April 28, 2009 at 2:03 pm 7 comments

budidaya belut

belut2BELUT (Synbranchus)
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas, Jakarta, Maret 2000
Editor : Kemal Prihatman 1. SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

2. SENTRA PERIKANAN
Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai
pos penampungan.

3. JENIS
Klasifikasi belut adalah sebagai berikut :
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Synbranchoidae
Famili : Synbranchidae
Genus : Synbranchus
Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut kali/laut)

Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah.

4. MANFAAT
Manfaat dari budidaya belut adalah:
1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3) Sebagai obat penambah darah.

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
2) Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
3) Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C.
4) Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan oksigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
2) Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
3) Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 30-50 cm.
4) Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester.
5) Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
6) Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik+ air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.
6.2. Penyiapan Bibit
1) Menyiapkan Bibit
a. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
b) Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
c. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
d. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemupukan
Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.
2) Pemberian Pakan
Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
3) Pemberian Vaksinasi
4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut.
2) Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan ikan gabus.
3) Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama.
7.2. Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

8. PANEN
Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
1) Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
2) Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).
Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain : bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.

9. PASCAPANEN
Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar, penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,-Rp. 28.000,
b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,-Rp. 225.000,
c. Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,
d. Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,
2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,-Rp. 750.000,
3) Keuntungan Rp. 422.000,
4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.

11. DAFTAR PUSTAKA
1) Satwono, B. 1999. Budidaya Belut dan Tidar. Penerbit Penebar Swadaya (Anggota IKAPI). Jakarta.
2) Ronni Hendrik S. 1999. Budidaya Belut. Penerbit Bhratara, Jakarta

12. KONTAK HUBUNGAN
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166-69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id

April 20, 2009 at 10:07 pm 30 comments

PELUANG USAHA PEMBIBITAN IKAN AIR TAWAR

pembibitan-perikanan-300x204Bidang perikanan terbukti memberikan peluang usaha yang cukup besar, setidaknya itu yang dialami oleh KPI Mina kepis. Organisasi ini berdiri pada tahun 1983 dengan nama taruna tani Burikan yang mempunyai beberapa seksi kegiatan salah satunya wiraswata yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan dan perikanan.

Seiring berjalannya waktu divisi perikanan ternyata mampu memberikan pemasukan yang cukup besar sehingga kelompok ini berfokus pada perikanan. Setelah melewati beberapa fase maka terbentuklah KPI Mina Kepis. Kami berhasil menemui pak Marjono salah seorang pengurus sekaligus pengusaha pembibitan ikan air tawar. Dari pak Marjono kami bisa menggali seluk beluk bisnis pembibitan perikanan air tawar.

Produksi
Produk yang dihasilkan antara lain jenis ikan hias dan ikan konsumsi. Untuk ikan hias dalam 1 siklus panen (pemijahan – siap jual), ikan koi mencapai 5000 ekor / musim dan jenis ikan komed 3000 ekor / musim. Untuk ikan konsumsi, setiap musim panen jenis graskap mencapai 5000 ekor, bawal 5000, ekor nila 2000 ekor, gurami 1500 ekor.

KPI Mina Kepis lebih fokus pada pembibitan, tahap awal adalah proses seleksi induk yang siap kawin. Induk hasil seleksi dipisahkan di tempat khusus yang telah diberi media temapt bertelur. Setelah bertelur induk diangkat , kemudian telur akan menetas dalam waktu 1 minggu.

Setelah berumur 20 hari – 1 bulan, burayak dipindahkan ke kolam tanah yang telah disiapkan beserta pakan alaminya. Untuk kolam ukuran 5x 10 meter butuh 5 karung pakan dengan harga 8-10 ribu/ karung.

Setelah bibit seukuran 1 kuku, diberi pakan pelet samapi siap panen dibutuhkan 3-5 karung ukuran 30 kg harga 200 ribu tiap karung. Waktu yang diperlukan dari proses bertelur sampai siap jual (ukuran 2-3 jari) sekitar 3 bulan.

Keunggulan dari pembibitan antara lain jenis ikan variatif, tempat yang strategis, dan kualitas terjaga. Selain itu pengelolaan sudah terorganisir. Dalam proses pengelolaannya, masing-masing petani mengelola kolamnya sendiri. Akan tetapi dalam proses pemasarannya dilakukan melalui satu pintu.

Apabila ada salah satu petani siap panen, maka ikan-ikan tersebut ditempatkan dalam bak penampungan khusus yang berfungsi sebagai display. Saat melayani konsumen, ada petugas khusus yaitu petugas pasar yang menangani penimbangan, packing dan pembayaran.

Pada saat kondisi ramai pengunjung dibutuhkan 3-4 orang petugas, sedangkan pada saat kondisi sepi cukup 2-3 orang. Petugas pasar ini dibayar sesuai prosentase, dari setiap penjualan disisihkan 7% dengan rincian 15 untuk pengembangan titik pasar (pelayanan konsumen), 2% untuk proses packing (gas dan plastik) dan 4% untuk petugas pasar.

Pemasaran
Konsumen berasal dari usaha pemancingan, rumah makan, pembeli umum bahkan dari instansi untuk keperluan penelitian.Sebagian besar pembeli berasal dari DIY dan beberapa dari Kalimantan dan Sulawesi.

Untuk harga jual bervariasi tergantung dari jenis ikan, ikan bawal ukuran 2-3 jari 18 ribu /kilo, ikan nila 13 ribu / kilo, graskap ukuran 1 jempol 25 ribu/kilo, tombro ukuran 1 jari 40 ribu/ kilo.

Pada hari besar omset mencapai 10 juta per hari sedangkan hari biasa 5 juta per hari. Omset pada tahun 2007 mencapai 1,1 M dan tahun 2008 mencapai 1,4 M.

Kendala
Kendala yang dihadapi selama ini antara lain terbatasnya suplai air pada musim kemarau, sehingga dalam pemenuhan kebutuhan oksigen harus dibantu dengan blower. Hal lain adalah pada musim tertentu banyak berpengaruh terhadap jenis ikan tertentu sehingga mudah terserang penyakit.

Persaingan tidak begitu berpengaruh karena masing-masing sudah mempunyai pangsa pasar sendiri. Rencana ke depan akan dilakukan renovasi fisik pasar untuk kenyamanan konsumen. Serta membuat kolam permanen.

Simulasi Keuntungan Usaha Pembibitan Ikan Air Tawar

Analisis usaha ini didasarkan pada ukuran kolam 5 x 10 m dengan satu jenis ikan.

Pengeluaran

Pakan bibit : 5 karung x Rp. 10.000,00 = Rp. 50.000,00
Pakan pelet : 4 karung x Rp. 200.000,00 = Rp. 800.000,00
Pupuk alami : 8 karung x Rp. 2.000,00 = Rp. 16.000,00

Total pengeluaran = Rp. 866.000,00

Pendapatan

Bawal : 70 kilo x Rp. 18.000,00 = Rp. 1.260.000,00

Keuntungan

Rp. 1.260.000,00 – Rp. 866.000,00 = Rp. 394.000,00

sumber bisnis ukm

April 18, 2009 at 6:11 am 1 comment

MERAIH LABA DARI KAMBING ETAWA

etawaMemelihara kambing Peranakan Etawa (ET) untungnya sangat menggiurkan. Air susu dan air kencingnya pun laku dijual. Haris RK

Radhmadiansyah Adlan, merupakan salah satu contoh pengusaha yang terbilang sukses mendulang untung dari peternakan kambing jenis Perakanan Etawa (PE). Rahmad, yang akan segera mengakhiri masa lajangnya ini, merupakan salah satu peternak yang cukup besar di kawasan sentra peternakan PE yang berlokasi di desa Kemiri Kebo, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. DIY.

Di lahan seluas 1000 M2 lebih, pria asal Sumatera Barat ini, sedikitnya memelihara 70 ekor kambing PE. Bisnis itu, dirintisnya sejak tiga tahun lalu. Pada awalnya, Rahmad ingin mengembangkan usaha penangkaran. Maksudnya, ia ingin menghasilkan bibit kambing PE untuk dijual ke pasar. Namun, dalam perkembanganya, ia tidak hanya fokus untuk pembibitan tapi juga menjual air susu PE.
Di wilayah lereng Merapi tersebut, ternak kambing PE memang bukan sesuatu yang asing. Maklum rata-rata warga yang tinggal di daerah berhawa dingin tersebut memang memiliki kebiasaan memelihara kambing PE disamping peternakan lainya seperti sapi dan kerbau.

Tapi apa yang dilakukan Adlan, memang sangat berbeda dengan yang menjadi kebiasaan penduduk setempat. Adlan, lebih profesional. Ia benar-benar menjadikan PE sebagai lahan bisnis yang memberikan keuntungan, bukan sekadar pekerjaan sambilan, seperti yang biasa dilakukan warga setempat. “Kalau kita serius, kambing PE sangat menguntungkan,” kata pria kelahiran 16 Desember 1977 ini.

Rahmad mengakui bahwa yang dilakukannya saat ini, masih pada tahap uji coba. Namun baru tahap uji coba pun usaha ini telah membuahkan hasil. Karena itulah, ia berniat untuk mengembangkan peternakan ini lebih besar lagi. “Potensi pasar masih terbuka lebar,” katanya.

Dari 70 ekor kambing, Rahmad telah memanen hasil dari penjualan bibit PE dan air susu. Bahkan kotoran ternak dan air seni yang pada dasarnya merupakan limbah juga laku dijual. Kotoran kambing memang tidak langsung dijual begitu saja, tapi harus diolah terlebih dulu menjadi pupuk kompos yang harga perkilonya mencapai Rp 1000. Sementara air seni kambing dijual dalam bentuk mentah dan fermentasi. Untuk yang mentah satu liter dihargai Rp 750 sedangkan yang sudah fermentasi mencapai Rp 15.000/liter. “Saat ini yang mengambil dari perorangan dan Universitas Gajah Mada untuk sampel penelitian,” kata sarjana Teknik Industri dari UII Jogjakarta ini.

Yang menarik, dari komoditas yang bisa dijual tersebut yang paling menguntungkan justru hasil penjualan air susu kambing. Rahmad mengaku kewalahan memenuhi permintaan yang terus meningkat dari hari ke hari. “Saya belum bisa memenuhi karena kapasitas produksinya memang masih rendah,” katanya.

Dalam memasarkan produknya, Rahmad memang terbilang jeli. Ia sengaja menyasar konsumen khusus, yakni mereka yang sedang menjalani proses terapi penyembuhan. Maksudnya, air susu tersebut dimanfaatkan sebagai terapi penyembuhan bagi mereka yang sedang didera penyakit tertentu. “Sebagian besar yang menjadi konsumen kami, orang-orang yang sedang bermasalah dengan kesehatan,” ujar pria berkaca mana minus ini.

Dari berbagai literatur diketahui, susu kambing PE memiliki kelebihan dibandingkan dengan susu sapi yang biasa dikonsumsi selama ini. Jika dibuat keju atau yogurt, susu kambing memiliki aroma lebih menarik dibandingkan dengan susu sapi.

Ahmad Sodik, seorang peneliti dari Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto bahkan menyatakan bahwa susu kambing bisa dijadikan alternatif sebagai minuman bayi pengganti ASI (Air Susu Ibu). Bahkan dari hasil penelitiannya bersama timnya, ia berani menyimpulkan bahwa kualitas susu kambing PE justru lebih bagus dibandingkan dengan ASI.

Hasil penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa air susu kambing PE sangat bagus untuk perbaikan nutrisi, karena tidak memiliki masalah lactosa intolerence sebuah zat yang bisa menyebabkan diare. “Air susu kambing PE memiliki kandungan gizi yang sangat bagus untuk kesehatan,” katanya.

Paling tidak menurut hasil penelitian tersebut, susu kambing PE sangat bagus untuk mereka yang menderita penyakit asma dan paru-paru. Bahkan untuk stamina pria pun juga oke. “Kalau mau minum dua gelas tiap hari dijamin stamina kita kuat,” ungkap Rahmad.
sumber bisnis ukm

April 18, 2009 at 5:54 am 3 comments

BUDIDAYA CACING TANAH

4a61. SEJARAH SINGKAT
Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata). Cacing tanah termasuk kelas Oligochaeta. Famili terpenting dari kelas ini Megascilicidae dan Lumbricidae Cacing tanah bukanlah hewan yang asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Namun hewan ini mempunyai potensi yang sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra peternakan cacing terbesar terdapat di Jawa Barat khususnya Bandung-Sumedang dan sekitarnya.
3. JENIS
Jenis-jenis yang paling banyak dikembangkan oleh manusia berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus. Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakan antara lain: Pheretima, Periony dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain. Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung. Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan dengan jumlah segmen 75-165 dan klitelumnya terletak pada segmen 13 dan 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya diperlukan perhatian yang lebih serius. Cacing jenis Lumbricus Rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yang lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan dan produksi bekas cacing “kascing”) serta tidak banyak bergerak
4. MANFAAT
Dalam bidang pertanian, cacing menghancurkan bahan organik sehingga memperbaiki aerasi dan struktur tanah. Akibatnya lahan menjadi subur dan penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi baik. Keberadaan cacing tanah akan meningkatkan populasi mikroba yang menguntungkan tanaman. Selain itu juga cacing tanah dapat digunakan sebagai:
1. Bahan Pakan Ternak
Berkat kandungan protein, lemak dan mineralnya yang tinggi, cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti unggas, ikan, udang dan kodok.
2. Bahan Baku Obat dan bahan ramuan untuk penyembuhan penyakit.
Secara tradisional cacing tanah dipercaya dapat meredakan demam, menurunkan tekanan darah, menyembuhkan bronchitis, reumatik sendi, sakit gigi dan tipus.
3. Bahan Baku Kosmetik
Cacing dapat diolah untuk digunakan sebagai pelembab kulit dan bahan baku pembuatan lipstik.
4. Makanan Manusia
Cacing merupakan sumber protein yang berpotensi untuk dimasukkan sebagai bahan makanan manusia seperti halnya daging sapi atau Ayam.
5. PERSYARATAN LOKASI
1. Tanah sebagai media hidup cacing harus mengandung bahan organik dalam jumlah yang besar.
2. Bahan-bahan organik tanah dapat berasal dari serasah (daun yang gugur), kotoran ternak atau tanaman dan hewan yang mati. Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya.
3. Untuk pertumbuhan yang baik, cacing tanah memerlukan tanah yang sedikit asam sampai netral atau ph sekitar 6-7,2. Dengan kondisi ini, bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi.
4. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15-30 %.
5. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah dan penetasan kokon adalah sekitar 15–25 derajat C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal.
6. Lokasi pemeliharaan cacing tanah diusahakan agar mudah penanganan dan pengawasannya serta tidak terkena sinar matahari secara langsung, misalnya di bawah pohon rindang, di tepi rumah atau di ruangan khusus (permanen) yang atapnya terbuat dari bahan-bahan yang tidak meneruskan sinar dan tidak menyimpan panas.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat seperti bambu, rumbia, papan bekas, ijuk dan genteng tanah liat. Salah satu contoh kandang permanen untuk peternakan skala besar adalah yang berukuran 1,5 x 18 m dengan tinggi 0,45 m. Didalamnya dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat wadah-wadah pemeliharaan. Bangunan kandang dapat pula tanpa dinding (bangunan terbuka). Model-model sistem budidaya, antara lain rak berbaki, kotak bertumpuk, pancing bertingkat atau pancing berjajar..
2. Pembibitan
Persiapan yang diperlukan dalam pembudidayaan cacing tanah adalah meramu media tumbuh, menyediakan bibit unggul, mempersiapkan kandang cacing dan kandang pelindung.
1. Pemilihan Bibit Calon Induk
Sebaiknya dalam beternak cacing tanah secara komersial digunakan bibit yang sudah ada karena diperlukan dalam jumlah yang besar. Namun bila akan dimulai dari skala kecil dapat pula dipakai bibit cacing tanah dari alam, yaitu dari tumpukan sampah yang membusuk atau dari tempat pembuangan kotoran hewan.
2. Pemeliharaan Bibit Calon Induk
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi beberapa cara:
1. pemeliharaan cacing tanah sebanyak-banyaknya sesuai tempat yang digunakan. Cacing tanah dapat dipilih yang muda atau dewasa. Jika sarang berukuran tinggi sekitar 0,3 m, panjang 2,5 m dan lebar kurang lebih 1 m, dapat ditampung sekitar 10.000 ekor cacing tanah dewasa.
2. pemeliharaan dimulai dengan jumlah kecil. Jika jumlahnya telah bertambah, sebagian cacing tanah dipindahkan ke bak lain.
3. pemeliharaan kombinasi cara a dan b.
4. pemeliharaan khusus kokon sampai anak, setelah dewasa di pindah ke bak lain.
5. Pemeliharaan khusus cacing dewasa sebagai bibit.
3. Sistem Pemuliabiakan
Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah sudah ada, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing tanah yang ada tidaklah sekaligus dimasukan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit. Beberapa bibit cacing tanah diletakan di atas media, kemudian diamati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru bibit cacing yang lain dimasukkan. Setiap 3 jam sekali diamati, mungkin ada yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media (wadah). Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada yang meninggalkan wadah berarti cacing tanah itu betah dan media sudah cocok. Sebaliknya bila media tidak cocok, cacing akan berkeliaran di permukaan media. Untuk mengatasinya, media harus segera diganti dengan yang baru. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas hingga air perasannya terlihat berwarna bening (tidak berwarna hitam atau cokelat tua).
4. Reproduksi, Perkawinan
Cacing tanah termasuk hewan hermaprodit, yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun demikian, untuk pembuahan, tidak dapat dilakukannya sendiri. Dari perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing akan dihasilkan satu kokon yang berisi telur-telur. Kokon berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon akan menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Diperkirakan 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun. Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.
3. Pemeliharaan
1. Pemberian Pakan
Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam sebanyak berat cacing tanah yang ditanam. Apabila yang ditanam 1 Kg, maka pakan yang harus diberikan juga harus 1 Kg. Secara umum pakan cacing tanah adalah berupa semua kotoran hewan, kecuali kotoran yang hanya dipakai sebagai media. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah, antara lain :
 pakan yang diberikan harus dijadikan bubuk atau bubur dengan cara diblender.
 bubur pakan ditaburkan rata di atas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 dari peti wadah tidak ditaburi pakan.
 pakan ditutup dengan plastik, karung , atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.
 pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa pakan terdahulu, harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
 bubur pakan yang akan diberikan pada cacing tanah mempunyai perbandingan air 1:1.
2. Penggantian Media
Media yang sudah menjadi tanah/kascing atau yang telah banyak telur (kokon) harus diganti. Supaya cacing cepat berkembang, maka telur, anak dan induk dipisahkan dan ditumbuhkan pada media baru. Rata rata penggantian media dilakukan dalam jangka waktu 2 Minggu.
3. Proses Kelahiran
Bahan untuk media pembuatan sarang adalah: kotoran hewan, dedaunan/Buah-buahan, batang pisang, limbah rumah tangga, limbah pasar, kertas koran/kardus/kayu lapuk/bubur kayu. Bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong sepanjang 2,5 Cm. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air kemudian diaduk kembali. Bahan campuran dan kotaran ternak dijadikan satu dengan persentase perbandingan 70:30 ditambah air secukupnya supaya tetap basah.
7. HAMA DAN PENYAKIT
Keberhasilan beternak cacing tanah tidak terlepas dari pengendalian terhadap hama dan musuh cacing tanah. Beberapa hama dan musuh cacing tanah antara lain: semut, kumbang, burung, kelabang, lipan, lalat, tikus, katak, tupai, ayam, itik, ular, angsa, lintah, kutu dan lain-lain. Musuh yang juga ditakuti adalah semut merah yang memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan serangan semut merah dilakukan dengan cara disekitar wadah pemeliharaan (dirambang) diberi air cukup.
8. PANEN
Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil terpenting (utama) yang dapat diharapkan, yaitu biomas (cacing tanah itu sendiri) dan kascing (bekas cacing). Panen cacing dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan mengunakan alat penerangan seperti lampu petromaks, lampu neon atau bohlam. Cacing tanah sangat sensitif terhadap cahaya sehingga mereka akan berkumpul di bagian atas media. Kemudian kita tinggal memisahkan cacing tanah itu dengan medianya. Ada cara panen yang lebih ekonomis dengan membalikan sarang. Dibalik sarang yang gelap ini cacing biasanya berkumpul dan cacing mudah terkumpul, kemudian sarang dibalik kembali dan pisahkan cacing yang tertinggal. Jika pada saat panen sudah terlihat adanya kokon (kumpulan telur), maka sarang dikembalikan pada wadah semula dan diberi pakan hingga sekitar 30 hari. Dalam jangka waktu itu, telur akan menetas. Dan cacing tanah dapat diambil untuk dipindahkan ke wadah pemeliharaan yang baru dan kascingnya siap di panen.
9. PASCAPANEN : ….
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya cacing tanah di Bandung (Jawa Barat) pada ahun 1999 adalah sebagai berikut:
1. Modal tetap
1. Sewa tanah seluas 200 m 2 /tahun———————–Rp. 120.000,-
2. Kandang pelindung:bahan bambu & atap rumbia —-Rp. 150.000,-
3. Kandang ternak uk 1,5X18 m 2 , Tg 50 Cm :11 bh –Rp. 600.000,-
4. Media :
 Bahan media 6 Ton, @ Rp. 100,00 ————Rp. 600.000,-
 Plastik 200 m, @ Rp. 1600,00/m —————Rp. 320.000,-
 Pelepah Pisang ————————————Rp. 25.000,-
Jumlah ———————————————Rp. 1.815.000,-
2. Biaya Penyusutan
1. Tanah ——————————————————–Rp. 40.000,-
2. Kandang Pelindung —————————————-Rp. 16.667,-
3. Kandang Ternak ——————————————-Rp. 66.667,-
4. Media
 Bahan Media ————————————–Rp. 300.000,-
 Plastik ———————————————-Rp. 160.000,-
 Pelepah Pisang ————————————Rp. 6.250,-
Jumlah ———————————————-Rp. 589.584,-
3. Modal Kerja
1. Bibit sebanyak 40 Kg, @ Rp. 200.000,00/Kg ———Rp. 8.000.000,-
2. Pakan dalam bentuk limbah sayur(petsai, Mentimun) 5 Ton @Rp. 500,- —Rp. 2.500.000,-
3. Tenaga Kerja 4 orang @ Rp. 100.000,-/bulan ——–Rp. 400.000,-
Jumlah ——————————————————Rp. 10.900.000,-
4. Jumlah modal yang dibutuhkan :
1. Modal tetap ————————————————Rp. 1.815.000,-
2. Modal kerja ————————————————Rp. 10.900.000,-
Jumlah —————————————————–Rp. 12.715.000,-
5. Produksi/4 bulan
Selama 4 bulan 1600 Kg, @ Rp.210.000,-/Kg —————-Rp. 336.000.000,-
6. Biaya produksi/4 bulan
1. Biaya penyusutan —————————————-Rp. 589.584,-
2. Modal kerja ———————————————–Rp. 10.900.000,-
Jumlah —————————————————–Rp. 11.489.584,-
7. Keuntungan/4 bulan
1. Produksi/4 bulan —————————————–Rp. 336.000.000,-
2. Biaya produksi/4 bulan ———————————–Rp. 1.489.584,-
Jumlah ——————————————————Rp. 324.510.416,-
8. Break Even Point
1. Keuntungan/4 bulan ————————————–Rp. 324.510.416,-
2. Biaya Produksi/4 bulan ———————————-Rp. 11.489.584,-
Jumlah ——————————————————Rp. 313.020.822,-
Keuntungan selama 4 bulan —————————-Rp. 313.020.822,-
Untung bersih Produksi Rp. 313.020.822,-/120 hr —-Rp. 2.608.506,-
BEP = Biaya Tetap [ 1 – (Biaya Penyusutan : Keuntungan)]
= Rp. 1.815.000,00 [ 1 – (Rp. 589.584 : Rp. 324.510.416,-)]
= Rp. 1.815.000,00 [ 1- 0.0018 ]
= Rp. 1.815.000,00 X 0.9982
= Rp. 1.811.733,00

Artinya tingkat hasil penjualan sebesar Rp. 1.811.733,00/4 bulan
9. Tingkat Pengembalian Modal
Modal Kembali =[Jumlah Modal Yang Diperlukan/(keuntungan + penyusutan)] * 1bulan = 1,733 bulan atau 2 bulan dalam 1 kali Produksi. Jadi tempo yang diperlukan untuk menutupi kembali Investasi adalah dalam 1 kali panen atau 2 bulan.
2. Gambaran Peluang Agribisnis
Cacing tanah merupakan komoditi ekspor yang belakangan ini mendapat respon yang besar dari para petani ataupun pengusaha. Hal ini disebabkan karena besarnya permintaan pasar internasional dan masih kurangnya produksi cacing tanah. Budidaya cacing tanah dapat memberikan hasil yang besar dengan penanganan yang baik.

cara pengembang biakan

Banyak cara ternak cacing yang ditawarkan dan diajarkan, namun tidak semua gampang seperti yang tiajarkan, cara ternak cacing yang saya praktekana di peternakan saya sebagai berikut:

1. Siapkan lahan ( lokasi peternakan ) dan wadah atau kotak.

2. Siapkan media, usahakan media yg banyak kita dapat di sekitar peternakan, supaya tidak menambah kost pengeluaran lagi.

3. Siapkan induk cacing. ( dapat dibeli di saya )

4. Siapkan pakan cacing, berupa ampas tahu atau kotoran sapi yg baru 2-3 hari.

5. Siapkan pekerja

Setelah semua siap, lakukan sebagai berikut: masukan 0.5kg induk cacing kedalam satu wadah atau kotak berisi minimal 3kg media yg telah matang, berikan dia pakan setiap dua hari sekali kalau diberi pakan ampas tahu, tapi jika diberi pakan kotoran sapi yg baru 2-3hari berikan satu minggu sekali. Periksalah setiap 2-3 minggu sekali, bila terlihat sudah bertelur dan banyak telurnya serta menguning segeralah dipisahkan antara cacing dan telur cacing. Induk cacing dipindahkan kemedia yang baru dan wadah yg baru pula, sedangkan media yg lama beserta telur cacing dimasukan lagi ke wadah yg lama, biarkan telur tersebut 2-3minggu atau sampai menetas, setelah menetas beri pakan sampai dia sebesar induknya yaitu sekitar 1 bulan kemudian, setelah itu lalu dipindahkan ke media yang baru, dan media bekas dia bisa diambil sebagai kascing atau pupuk organik. Sementara itu induk cacing yang tadi biasanyasudah bertelur lagi beberapa kali karena bila pakan dan medianya bagus induk cacing tersebut akan bertelur setiap 2 minggu sekali.

sumber sentra informasi iptek

April 18, 2009 at 2:24 am 6 comments

ternak ayam hutan hijau

ayam_hutan_hijauAyam-hutan Hijau adalah nama sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yakni keluarga ayam, puyuh, merak dan sempidan. Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang ayam peliharaan. Dalam bahasa daerah, ayam ini disebut dengan berbagai nama seperti canghegar atau cangehgar (Sd.), ayam alas (Jw.), ajem allas atau tarattah (Md.).

Memiliki nama ilmiah Gallus varius (Shaw, 1798), ayam ini dalam bahasa Inggris disebut Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl; yakni merujuk pada warna dan asal tempatnya.

Ciri-Ciri

Burung yang berukuran besar, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 60 cm pada ayam jantan, dan 42 cm pada yang betina.

Jengger pada ayam jantan tidak bergerigi, melainkan membulat tepinya; merah, dengan warna kebiruan di tengahnya. Bulu-bulu pada leher, tengkuk dan mantel hijau berkilau dengan tepian (margin) kehitaman, nampak seperti sisik ikan. Penutup pinggul berupa bulu-bulu panjang meruncing kuning keemasan dengan tengah berwarna hitam. Sisi bawah tubuh hitam, dan ekor hitam berkilau kehijauan. Ayam betina lebih kecil, kuning kecoklatan, dengan garis-garis dan bintik hitam.

Iris merah, paruh abu-abu keputihan, dan kaki kekuningan atau agak kemerahan.

Penyebaran dan Kebiasaan

Ayam yang menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Ayam-hutan Hijau diketahui menyebar terbatas di Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat tercatat hidup hingga ketinggian 1.500 m dpl, di Jawa Timur hingga 3.000 m dpl dan di Lombok hingga 2.400 m dpl.

Pagi dan sore ayam ini biasa mencari makanan di tempat-tempat terbuka dan berumput, sedangkan pada siang hari yang terik berlindung di bawah naungan tajuk hutan. Ayam-hutan Hijau memakan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil.

Ayam ini kerap terlihat dalam kelompok, 2 – 7 ekor atau lebih, mencari makanan di rerumputan di dekat kumpulan ungulata besar seperti kerbau, sapi atau banteng. Selain memburu serangga yang terusik oleh hewan-hewan besar itu, Ayam-hutan Hijau diketahui senang membongkar dan mengais-ngais kotoran herbivora tersebut untuk mencari biji-bijian yang belum tercerna, atau serangga yang memakan kotoran itu.

Pada malam hari, kelompok ayam hutan ini tidur tak berjauhan di rumpun bambu, perdu-perduan, atau daun-daun palem hutan pada ketinggian 1,5 – 4 m di atas tanah.

Ayam-hutan Hijau berbiak antara bulan Oktober-Nopember di Jawa Barat dan sekitar Maret-Juli di Jawa Timur. Sarang dibuat secara sederhana di atas tanah berlapis rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Telur 3-4 butir berwarna keputih-putihan.

Tak seperti keturunannya ayam kampung, Ayam-hutan Hijau pandai terbang. Anak ayam hutan ini telah mampu terbang menghindari bahaya dalam beberapa minggu saja. Ayam yang dewasa mampu terbang seketika dan vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau lebih. Terbang mendatar, Ayam-hutan Hijau mampu terbang lurus hingga beberapa ratus meter; bahkan diyakini mampu terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan melintasi laut.

Pagi dan petang hari, ayam jantan berkokok dengan suaranya yang khas, nyaring sengau. Mula-mula bersuara cek-kreh.. berturut-turut beberapa kali seperti suara bersin, diikuti dengan bunyi cek-ki kreh.. 10 – 15 kali, dengan jeda waktu beberapa sampai belasan detik, semakin lama semakin panjang jedanya. Kokok ini biasanya segera diikuti atau disambut oleh satu atau beberapa jantan yang tinggal berdekatan. Ayam betina berkotek mirip ayam kampung, dengan suara yang lebih kecil-nyaring, di pagi hari ketika akan keluar tempat tidurnya.
Ayam hutan dan manusia

Ayam hutan hijau adalah kerabat dekat leluhur ayam peliharaan, ayam-hutan merah (Gallus gallus). Ayam hutan merah yang menyebar luas mulai dari Himalaya, Tiongkok selatan, Asia Tenggara, hingga ke Sumatra dan Jawa. Pada pihak lain, ayam-hutan hijau tersebar di Jawa, Bali dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya. Ayam hutan dari Jawa Timur dikenal sebagai sumber tetua untuk menghasilkan ayam bekisar. Bekisar adalah persilangan antara ayam-hutan hijau dengan ayam kampung.

Bekisar dikembangkan orang untuk menghasilkan ayam hias yang indah bulunya, dan terutama untuk mendapatkan ayam dengan kokok yang khas. Karena suaranya, ayam bekisar dapat mencapai harga yang sangat mahal. Bekisar juga menjadi lambang fauna daerah Jawa Timur.

sumber dinas peternakan jateng

April 15, 2009 at 8:23 pm 48 comments

Beternak Jangkrik

jangkrik-sebagai-kebutuhan-industri-dan-pakan-ternakMencari peluang usaha tanpa harus mengeluarkan dana yang cukup besar, ternyata memang tidak gampang. Apapun itu, semua pasti harus dengan modal.

Mencari peluang usaha tanpa harus mengeluarkan dana yang cukup besar, ternyata memang tidak gampang. Apapun itu, semua pasti harus dengan modal. Namun pendapat itu tidak berlaku bagi para peternak jangkrik (Gyllus testaceus). Cukup dengan modal Rp 1,4 juta, setiap setor jangkrik 80 kilogram (kg), ke Asosiasi Peternak Jangkrik (Astrik), peternak akan menerima uang Rp 2,4 juta.

Dengan modal Rp 1,4 juta itu, satu peternak akan mendapat 10 kotak sarang seharga Rp 10.000 per kotak, telur 4 ons, pakan 120 kg dan beban oven Rp 50.000. Namun sayangnya, peluang ini belum cukup mendapat perhatian, sehingga para pengusaha pakan ternak dan jamu, harus menunggu mendapatkan jangkrik kering atau bubuk dari Astrik.

Ika Nurwidia (23), manager pemasaran Astrik, sempat mengeluh. Dari 700 peternak yang tergabung di asosiasinya, hanya bisa dikumpulkan sekitar 2 ton per minggu. Satu pabrik pakan ternak di Jawa Timur, bisa memesan 50 ton dalam satu minggu. Pengusaha pakan ternak tertarik untuk mengubah pola produksi mereka dengan bahan jangkrik disebabkan oleh mahalnya bahan impor.

Dari pada untuk membeli tepung babi dari luar negeri dengan harga US$ 370 per ton, lebih baik tepung jangkrik yang lebih murah. Dari Astrik, tepung jangkrik hanya dijual Rp 150 juta per ton. Berdasar penelitian ilmiah, jangkrik memiliki kandungan hormon progesterone 105,49 ppm, testoteron 31,78 ppm dan hormon estrogen 259,535 ppm. Bahkan mampu menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram jauh diatas bahan makanan lainnya.

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, yang ditunjuk Astrik sebagai Litbang, juga menyelidiki bahwa jangkrik memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Kandungan proteinnya mencapai 57,32 persen. Selain itu si krik-krik ini juga memiliki senyawa kimia seperti asam amino yang sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan sel, GSH (glutation) dan berfungsi sebagai antioksidan alami pada tubuh manusia.

Tak ayal lagi, jenis-jenis kandungan bahan itu, membuat jangkrik banyak diburu untuk kepentingan industri baik industri pakan ternak, jamu maupun kosmetik. Sebenarnya pengembangan peternakan jangkrik sudah dimulai sejak tahun 1990-an. Namun waktu itu jangkrik hanya dijadikan komoditas pakan hewan dan dipasarkan di pasar tradisional. Tahun 2000 booming jangkrik sempat terjadi. Sampai-sampai pasar tradisional tidak mampu menampung panenan ribuan peternak jangkrik.

Akibat dari belum tersedianya pasar itu, peternak banyak yang frustasi. Namun bagi Ika Nurwidia dan empat rekannya Ari Hidayat, Fitri Darsini, Pandu dan Bagus Sigit Panuntun, jangkrik adalah permata yang belum digosok. Dan itu terbukti ketika Ika, dengan Astrik membuat gebrakan. Pertama dengan penelitian, kedua dengan mencari pasar, selain pakan burung di pasar tradisional itu.

Pada tahun 2004, jangkrik ini lantas dibudidayakan. Ika Nurwidia dengan empat pelopor Astrik berpatungan Rp 3 juta per orang. Kerja keras itu ternyata membuahkan hasil. Kini permintaan membanjir, bahkan selalu bertambah. Ika menyadari bahwa kemampuan Astrik masih sangat terbatas. ”Tetapi bukan prosesnya, kami siap membeli semua hasil peternak kapan saja. Tapi ya itu, masih kurang banyak sekali,” katanya.

Jangkrik-jangkrik yang dibudidayakan di dalam kotak. Beternak jangkrik ternyata cukup menguntungkan

Tapi jangan salah, asosiasi ini ternyata tidak mau menerima sembarang jangkrik. Ika dan kawan-kawannya, mensyaratkan bahwa peternak yang menjual ke Astrik, harus anggotanya.

Mengapa harus begitu? Ika menjelaskan, Astrik harus memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan, misalnya panjangnya minimal 2 cm, berumur tak lebih 40 hari serta harus sehat. Untuk itu, setiap peternak yang menjadi anggota Astrik wajib memberi makanan jangkriknya dengan pakan yang diolah oleh Astrik sendiri. Pakan itu sudah diolah dengan kandungan mineral, protein dan vitamin yang mampu menjaga kesehatan jangkrik.

Selain itu, Astrik pun tak mau menerima jangkrik yang berumur di atas 40 hari. Ternyata cukup beralasan, sebab di umur itu jangkrik dewasa sudah bertelur dan ketika proses pengovenan, jangkrik menjadi kempes. ”Peternak hanya memberi makanan pendamping seperti jagung, kacang hijau, obat antioksidan, dan antibiotik,” kata Ika.

Dikatakan, Astrik akan membeli jangkrik dari anggotanya seharga Rp 30 ribu per kg untuk jangkrik basah, dan jika peternak sudah mampu mengeringkan dengan sistem oven, harga pembelian menjadi Rp 96 ribu per kg. Namun asosiasi ini menjual jangkrik bubuk seharga Rp 150 ribu per kg.

Terkait dengan kurangnya bahan baku itu, Astrik akhirnya bekerja sama dengan Pemda Lamongan, Jawa Timur untuk menambah jumlah peternak. ”Jangan takut, pasar jangkrik masih terbuka luas. Apalagi beberapa rekanan kami, pengusaha jamu di Jawa Barat, masih terus meminta bubuk jangkrik tanpa batas,” ucapnya.

Sambil sedikit berpromosi, Ika dengan Astriknya yang bermarkas di Jalan Pakaryan 5 Yogyakarta itu menyatakan, jangan takut dengan si krik-krik. Peluangnya masih terbuka lebar. ”Sekarang daripada berpangku tangan, meminta pekerjaan, mengapa tidak mencoba. Si krik-krik ini ramah lingkungan. Tidak ada limbah kotoran dan tidak berbahaya,” katanya berpromosi.

sumber situs hijau

April 15, 2009 at 2:09 am 145 comments

Older Posts


Pilih bahasa

Categories

status

kaskusradio.com

KasKusRadio - Indonesian Radio

rank

Alexa Certified Traffic Ranking for ayobertani.wordpress.com
June 2017
M T W T F S S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930